Di suatu Minggu pagi yang cerah Sembadra menghampiri Gareng,
Petruk, dan Bagong di padepokan Sapta Arga. Mereka bertiga sedang memberi makan
ayam dan merpati. Sembadra mengajak mereka pergi jalan-jalan ke mall. Karena
hari Minggu disebut hari libur maka mereka bertiga menerima tawaran dengan
girang. Pringas-pringis, cengengas-cengenges, hore! Petruk berebut dengan Gareng
duduk di depan. Gareng kalah. Bagong di belakang. Sembadra nyetir. “Brummm”. Pakan
ayam ditinggal berserakan.
“Non, kita mau pergi ke mall yang mana?”, tanya Bagong
girang.
“Ke mall yang paling buessarr”, jawab Sembadra mantap.
“Hehe. Mall yang besar. Shopping. Shopping. Shopping!”, kata
Petruk menikmati pemandangan.
“Bagong kamu udah mandi belum? Kamu bauk!”, sela Gareng.
“Sudah donk. Gareng riwil!”, tukas Bagong.
“Non, nanti mampir ke toko peralatan masak ya? Pingin
lihat-lihat”, kata gareng.
“Gampang”, jawab Sembadra di balik kacamata hitamnya yang
berbingkai tebal.
Corvette merah melaju kencang, meliak-liuk menari menyusuri jalan
desa. Stereo memutar denting gitar La Paloma dengan nuansa Spanish. Sawah-sawah membentang dipagari pepohonan kelapa. Mentari bertengger di
atas kaki gunung. Sapi dan kerbau menyeberang jalan. Bebek-bebek mandi di kali.
Gareng, Petruk, dan Bagong melamunkan apa yang ingin mereka beli. Barangkali hoki. Gratis.
Sampai di mall yang paling buesar mereka berempat mulai jalan.
Sembadra dikawal Petruk yang jambulnya klimis rapi karena sudah diplintir terus
sejak tadi. Gareng mengikuti di belakang bersama Bagong yang jalan megal-megol.
Di outlet sepatu, Sembadra memilih-milih wedges,
“Gareng, ini sama ini bagus mana?”
Petruk dan Bagong bengong tak paham. Gareng menjawab
sekenanya,
“Yang merah OK. Yang hijau cantik”.
Keduanya diangkut Sembadra. Petruk melihat-lihat sepatu boots
kulit. Ditimang-ditimangnya sepatu yang paling mahal, lalu dicoba sambil
berkaca.
“Ambil aja Truk. Aku beliin”, kata Sembadra.
“Wow! Okei. Thank you!”.
“Non! Ayo kita lihat-lihat batiiiik!!”, Bagong usul seperti
proklamator teriak merdeka.
“Yuuk”, jawab Sembadra enteng.
Gareng makin serius memikirkan apa yang ingin ia beli.
Mereka berempat mengelilingi mall dari ujung ke ujung, dari
lantai ke lantai. Setiap outlet yang SPG-nya cantik dimasuki Petruk. Outlet-outlet
yang jual baju warna-warni dimasuki Bagong. Gareng mengangkut semua peralatan
masak yang canggih. Sembadra enteng main gesek kartu. Anehnya semakin banyak
yang dibeli, ia semakin puas.
Tas-tas belanjaan dijinjing
disana-sini. Petruk dibelikan sepasang sepatu, 2 kemeja, 2 celana jeans, jaket
parka, dan kacamata. Bagong dibelikan 4 batik, 2 kemeja, jas, celana, dan kopiah
hitam. Gareng dibelikan microwave, panci presto, wajan teflon, seperangkat
pisau dapur mulai dari yang kecil sampai besar, topi koki Perancis, dan
celemeknya. Sembadra memborong blues bermacam-macam warna dan daleman-daleman.
Semuanya barang mahal.
Pada perjalanan pulang mereka
mampir ke restaurant Pizza. Bagong yang ditugasi memilih menu. Hasilnya,
dipesan semuanya. Sebagian dibawa pulang.
Senja menjemput. Mereka pulang.
Corvette merah kembali menyusuri jalan yang sama. Mobil penuh sesak dengan perabotan
dan barang belanjaan.
“Barang belanjaan sebanyak ini,
habis berapa untuk shopping tadi Non?”, tanya Gareng.
“Ga tau. Masih kurang banyak belanjanya”,
jawab Sembadra memegang setir.
“Kuat ya Non kartunya. Digesek
terus ga rusak”, kata Bagong.
“Hahaha! Ya enggak donk Gong.
Kartunya ga bisa rusak. Isinya yang bisa jebol”, kata Petruk.
“Iya maksudku itu Truk!”, kata
Bagong.
“O… Santai”, jawab Sembadra
enteng. Sangat enteng.
Di belahan bumi lain yang tak
diketahui Sembadra. Di negeri seberang lautan nun jauh di sana. Danasmara yang
sedang menarik uang tunai mengerutkan dahi. Saldo ATM-nya hampir kosong.
“Ada apa? Apa aku harus
pulang?"
Keren banget! Aku mau jadi Sembadra yang ini 😂
ReplyDelete