Tuesday, May 2, 2017

Menapak Jalan Sekangen




Sorot mentari sore yang tak lagi terik menyinari padepokan Sapta Arga. Semburat emasnya memantul pada lembut kulit Sembadra yang halus bagai sutra dan putih merona pualam. Sayang pemiliknya sedang cemberut menekuk wajah karena kangennya yang tak kunjung sampai. Sosok yang ditunggu-tunggu parasnya untuk diajak bercanda atau sekedar disapa, tak kunjung muncul. Telah kali ke sekian ia menyetir sendiri Corvette-nya mengunjungi padepokan Sapta Arga tiap sore, atau malam. Dimana pelepas kangen Sembadra itu? Dimana gerangan Arjuna Danasmara?

Yang pasti selalu ia temui selang-seling bergantian di teras pendapa utama padepokan itu, ialah teman setia Arjuna di masa-masa pertapaan. Kalau tidak ketemu Petruk ya Bagong, kalau tidak ketemu Bagong ya Gareng.

“Bagong aku lagi suntuk. Kamu mainan apa sih tuh?”, tanya Sembadra memecah bosan.

“O ini namanya nglinthing rokok Non, pakai alat manual. Hehehe. Asik lho”, Bagong sibuk mencari kertas garet.

“Masa sih asik? Sini coba aku lihat. Caranya nglintink gimana?”

“Nglinthing Non, bukan nglintink. Nglin…thing. Ini kertas garetnya. Itu tembakaunya diambil dulu. Tembakau istimewa dari Temanggung, sudah diperam dengan campuran tembakau jimat, jadi enak”  

“Mana coba. Bagong, aku yang nglintink kamu nanti yang ngrokok ya? Coba nanti enak ga.”

“Yaaaa”, jawab Bagong hepi. “Mau dikasih cengkeh dan menyan ga Non? Hehe”

“Untuk apa sih?”

“Ya biar komplit donk” 

“Kalau makin komplit makin enak?”

“Betull. Ini cengkehnya ditabur, yang rata. Menyan-nya harus dilembutkan dulu, dideplok. Kalau menyan dikasih sedikit saja” 

“Kruess kruess kruesss”, Bagong ndeplok menyan. 

“Segini Gong?”, Sembadra meracik tembakau. 

“O.K. Nah itu digulung pakai alat. Ditarik pelan saja, tapi mantap. Kertas garetnya disisakan sedikit untuk dilem”

“Greeeett gret gret”, Sembadra menarik alat gulungan rokok perlahan. Dioleskan sedikit lem. 

“Nih Gong dah jadiii. Bagus kan lintingankuu? Heheh”

“Halah bagus apa. Linthingan mletat-mletot gitu. Hahaaa”

“Lho Bagong ini tuh namanya seni! Ni cobain.”

“Crik, crik, jessss”, Bagong menyulut rokok. Sehisap. Dua hisap, “Fuuuuuh”

“Gimana Gong rasanya? Enak?”

“Yaaaa. Boleh lah. Enak”

“Hehehe, ya jelas lah enak siapa dulu yang nglintink”

“Lha wong tembakaunya juga enak” 

“Eh.. Bagong.. Mas Juna suka rokok linthingan gini juga ga sih?”, rasa hampa kembali menyusupi hati Sembadra. Udara yang seakan pergi. Sesak di dada. 

“Den Arjuna? Ya…  kadang nglinthing kalau lagi isenk”

Sembadra melamun. Pikirannya sedang mengembara ke tempat yang tak dimengerti Bagong sampai kemana. Ujung matanya mulai sedikit berembun, meski lalu ia putus lamunan itu dengan meminum teh manis di depannya. 

“Kangen Den Arjuna Non?” sela Bagong pelan meraba perasaan Sembadra. 

“Udah ah aku pulang dulu”, Sembadra mendadak pamit. Pergi. Hilang.


untuk semua kenangan
yang disimpan di balik bayang genangan hujan
untuk semua rindu 
yang dititipkan pada gores embun kaca-kaca jendela
dan tiap kangen
yang disisipkan pada bait-bait yang tak terbaca 

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...