Sorot mentari
sore yang tak lagi terik menyinari padepokan Sapta Arga. Semburat emasnya
memantul pada lembut kulit Sembadra yang halus bagai sutra dan putih merona
pualam. Sayang pemiliknya sedang cemberut menekuk wajah karena kangennya yang
tak kunjung sampai. Sosok yang ditunggu-tunggu parasnya untuk diajak bercanda
atau sekedar disapa, tak kunjung muncul. Telah kali ke sekian ia menyetir
sendiri Corvette-nya mengunjungi padepokan Sapta Arga tiap sore, atau malam. Dimana
pelepas kangen Sembadra itu? Dimana gerangan Arjuna Danasmara?
Yang pasti selalu
ia temui selang-seling bergantian di teras pendapa utama padepokan itu, ialah teman setia Arjuna di masa-masa pertapaan. Kalau tidak ketemu Petruk ya
Bagong, kalau tidak ketemu Bagong ya Gareng.
“Bagong aku
lagi suntuk. Kamu mainan apa sih tuh?”, tanya Sembadra memecah bosan.
“O ini namanya
nglinthing rokok Non, pakai alat manual. Hehehe. Asik lho”, Bagong sibuk mencari
kertas garet.
“Masa sih
asik? Sini coba aku lihat. Caranya nglintink gimana?”
“Nglinthing
Non, bukan nglintink. Nglin…thing. Ini kertas garetnya. Itu tembakaunya diambil
dulu. Tembakau istimewa dari Temanggung, sudah diperam dengan campuran tembakau
jimat, jadi enak”
“Mana coba. Bagong,
aku yang nglintink kamu nanti yang ngrokok ya? Coba nanti enak ga.”
“Yaaaa”, jawab
Bagong hepi. “Mau dikasih cengkeh dan menyan ga Non? Hehe”
“Untuk apa
sih?”
“Ya biar
komplit donk”
“Kalau makin
komplit makin enak?”
“Betull. Ini cengkehnya ditabur, yang rata. Menyan-nya harus dilembutkan dulu,
dideplok. Kalau menyan dikasih sedikit saja”
“Kruess
kruess kruesss”, Bagong ndeplok menyan.
“Segini
Gong?”, Sembadra meracik tembakau.
“O.K. Nah
itu digulung pakai alat. Ditarik pelan saja, tapi mantap. Kertas garetnya
disisakan sedikit untuk dilem”
“Greeeett
gret gret”, Sembadra menarik alat gulungan rokok perlahan. Dioleskan sedikit
lem.
“Nih Gong
dah jadiii. Bagus kan lintingankuu? Heheh”
“Halah bagus
apa. Linthingan mletat-mletot gitu. Hahaaa”
“Lho Bagong
ini tuh namanya seni! Ni cobain.”
“Crik, crik,
jessss”, Bagong menyulut rokok. Sehisap. Dua hisap, “Fuuuuuh”
“Gimana Gong
rasanya? Enak?”
“Yaaaa.
Boleh lah. Enak”
“Hehehe, ya
jelas lah enak siapa dulu yang nglintink”
“Lha wong
tembakaunya juga enak”
“Eh.. Bagong..
Mas Juna suka rokok linthingan gini juga ga sih?”, rasa hampa kembali menyusupi
hati Sembadra. Udara yang seakan pergi. Sesak di dada.
“Den Arjuna?
Ya… kadang nglinthing kalau lagi isenk”
Sembadra melamun. Pikirannya sedang mengembara ke tempat yang
tak dimengerti Bagong sampai kemana. Ujung matanya mulai sedikit berembun,
meski lalu ia putus lamunan itu dengan meminum teh manis di depannya.
“Kangen Den
Arjuna Non?” sela Bagong pelan meraba perasaan Sembadra.
“Udah ah aku
pulang dulu”, Sembadra mendadak pamit. Pergi. Hilang.
untuk semua kenangan
yang disimpan di balik bayang
genangan hujan
untuk semua rindu
yang dititipkan pada gores embun
kaca-kaca jendela
dan tiap kangen
yang disisipkan pada bait-bait
yang tak terbaca

No comments:
Post a Comment