“Petruuuk”, “Truuk”
Sepi. Cuma burung kenari di ujung pos jaga yang berkicau.
“Gareng”, “Reeeng”
“Cuit cuit cuit cuit cor cor corr”, kicau kenari lagi.
“Bagoooong”
“Kur derku ku ku kuu”, derkuku ikut berkicau.
Senyap.
“Pada kemana sih?”
“Pada kemana sih?”
Kombangjali yang sudah siap di meja
makan, terpaksa duduk manis sendiri karena Sembadra masih terlelap dari tidur
siangnya yang katanya tadi cuma mau tidur sebentar.
Biasanya ia makan apa yang
disajikan di meja. Tak pernah request menu tertentu atau komentar soal masakan
Sembadra. Apalagi komplain. Tapi memikirkan jalan keluar dari kepungan isu
miring di sosmed yang disebarkan oleh buzzer-buzzer Dursasana membuat ia
ingin makan kerupuk.
Ia pikir-pikir apa salah kalau cuma ingin makan pakai menu
khusus, toh biasanya ia selalu makan apa yang ada. Kalau salah sih tidak. Tapi
apa pantas, soal krupuk bisa sampai jadi hal yang perlu dipikirkan dan membuat
bimbang. Apa benar ini hanya soal krupuk, atau nafsu makannya yang sedang berkurang.
Sepi.
Lengang.
Daripada waktu ia habiskan untuk merenungi soal kerupuk,
mending ia gunakan untuk jalan ke warung istri Petruk di seberang jalan. Belum
sampai hasil perenungan selesai, krupuk sudah ada di tangan. Istilah populernya,
dipikir karo mlaku, dipikir sambil jalan.
Demikian akhirnya Den Kombangjali jalan sendiri timak-timik, ngingkling beli
kerupuk.
“Kurr derku ku ku uhuk uhukkkk”, Bagong terbatuk-batuk.
“Sssssssssssstttt!”, Petruk dan Gareng menyumpal mulut
Bagong.

No comments:
Post a Comment