Monday, May 1, 2017

Kembang Kopi Susu



Kopi susu jaman sekarang, susunya sachet, kopinya campuran. Mana ada di dunia ini yang orisinil. Apalagi orisinil cantik. Wajah biasa, dipulas filter aplikasi-aplikasi kecantikan dari andoid, lalu diposting di instagram, hasilnya udah cantik bingit. Itu baru cantik wajah, belum cantik dalam. Cantik dalam yang tidak bisa dipulas dan diberi filter itu makin langka lagi. Kalo ketemu perempuan yang cantik di luar n cantik di dalam. Wah, taman sriwedari pun berani kuboyong buatnya. Heheheh

“Lha di dunia ini apa ada manusia yang sempurna? Tidak ada”, wejang Habib Umar padaku suatu siang. Habib Umar Muthohar dari Cepoko, Semarang. Kok bisa sampai Bib Umar? Emang aku kenal? Heheheh, guruku kan banyak. Jangan lupa ada pepatah mengatakan, di balik murid yang hebat pasti ada guru yang hebat. Atau bisa jadi, di balik murid yang mbeling, ada guru yang hebat, karena murid-murid yang mbeling bingit hanya bisa ditangani oleh guru-guru yang top. Duh.

Perkara pilih-memilih calon pasangan memang bisa jadi rumit kalau dibuat rumit. Bayangkan jika di sebuah took hanya ada dua jenis baju yang disuka, dan harus cuma satu yang dibeli. Maka memilih satu baju, ongkosnya hanya merelakan satu baju yang lain. Tapi coba kalo pilihannya lima? Memilih satu, ongkosnya harus merelakan yang empat. Hehehe

(Cut cut cut! Ibuku manggil. Bubar dulu lanjut kapan-kapan)

Untuk hadiah, kukutipkan puisi-puisi Mas Nanang Hape tentang bunga bersajak irim:

Irim-irim kudendangkan | berbaris tiga-tiga | empat bait panjangnya. | Duapuluh dua angka | delapan tujuh tujuh | kecap suku katanya.

Adalah senandung bunga | bunga apakah kamu | berbunga-bunga aku. | Warna seiring wanginya | mekar manakah kamu | musim apakah aku.

Musimnya lalat merubung | juga kumbang terpasung | bunga alum melayu. | Lalu duri menegaskan | hari-hari terlantar | terkubur sia-sia.

Akar-akar bertautan | mengucap lagi janji | menyerap lagi sari. | Sementara masih juga | tanah pecah membelah | dahaga yang kerontang.

Masih mekarkah di situ | sudah kumbangkah aku | si wangi sudah pergi. | Dengan cara apa lagi | kita saling bertemu | melara luka-luka.

Meluruhkan daun-daun | meluruskan semimu | melaraskan kuncupku. | Hujan akan mengekalkan | lalu dan lalang kaki | sepi dan beku hati.

Riuh rayu kerinduan | bait-bait harian | jalinan nada-nada. | Juga tawa yang menusuk | gelinjang yang menisik | ingatan yang menikam.

Terjaga aku olehmu | irim-irim lagunya | Darmawangsa masanya. | Tuntas sudah kulagukan | untuk satu penanda | kita pernah di sana. 

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...