Kopi susu jaman sekarang, susunya sachet, kopinya campuran.
Mana ada di dunia ini yang orisinil. Apalagi orisinil cantik. Wajah biasa,
dipulas filter aplikasi-aplikasi kecantikan dari andoid, lalu diposting di
instagram, hasilnya udah cantik bingit. Itu baru cantik wajah, belum cantik
dalam. Cantik dalam yang tidak bisa dipulas dan diberi filter itu makin langka
lagi. Kalo ketemu perempuan yang cantik di luar n cantik di dalam. Wah, taman
sriwedari pun berani kuboyong buatnya. Heheheh
“Lha di dunia ini apa ada manusia yang sempurna? Tidak ada”,
wejang Habib Umar padaku suatu siang. Habib Umar Muthohar dari Cepoko,
Semarang. Kok bisa sampai Bib Umar? Emang aku kenal? Heheheh, guruku kan
banyak. Jangan lupa ada pepatah mengatakan, di balik murid yang hebat pasti ada
guru yang hebat. Atau bisa jadi, di balik murid yang mbeling, ada guru yang
hebat, karena murid-murid yang mbeling bingit hanya bisa ditangani oleh
guru-guru yang top. Duh.
Perkara pilih-memilih calon pasangan memang bisa jadi rumit
kalau dibuat rumit. Bayangkan jika di sebuah took hanya ada dua jenis baju yang
disuka, dan harus cuma satu yang dibeli. Maka memilih satu baju, ongkosnya
hanya merelakan satu baju yang lain. Tapi coba kalo pilihannya lima? Memilih
satu, ongkosnya harus merelakan yang empat. Hehehe
(Cut cut cut! Ibuku manggil. Bubar dulu lanjut kapan-kapan)
Untuk hadiah, kukutipkan puisi-puisi Mas Nanang Hape
tentang bunga bersajak irim:
Irim-irim
kudendangkan | berbaris tiga-tiga | empat bait panjangnya. | Duapuluh dua angka
| delapan tujuh tujuh | kecap suku katanya.
Adalah
senandung bunga | bunga apakah kamu | berbunga-bunga aku. | Warna seiring
wanginya | mekar manakah kamu | musim apakah aku.
Musimnya
lalat merubung | juga kumbang terpasung | bunga alum melayu. | Lalu duri
menegaskan | hari-hari terlantar | terkubur sia-sia.
Akar-akar
bertautan | mengucap lagi janji | menyerap lagi sari. | Sementara masih juga |
tanah pecah membelah | dahaga yang kerontang.
Masih
mekarkah di situ | sudah kumbangkah aku | si wangi sudah pergi. | Dengan cara
apa lagi | kita saling bertemu | melara luka-luka.
Meluruhkan
daun-daun | meluruskan semimu | melaraskan kuncupku. | Hujan akan mengekalkan |
lalu dan lalang kaki | sepi dan beku hati.
Riuh rayu
kerinduan | bait-bait harian | jalinan nada-nada. | Juga tawa yang menusuk |
gelinjang yang menisik | ingatan yang menikam.
Terjaga aku olehmu | irim-irim lagunya | Darmawangsa masanya.
| Tuntas sudah kulagukan | untuk satu penanda | kita pernah di sana.

No comments:
Post a Comment