Malam masih muda dan dingin. Kabut menyusup ruas-ruas
pepohonan pinus di belakang padepokan Sapta Arga. Segala jenis unggas yang
berkokok dan berkicau di pagi hari tidur lelap di dahan-dahan pohon dan
sangkar-sangkar. Kecuali burung prenjak milik Gareng, pagi – siang - sore,
prenjak tidur, malam malah berkicau. Istimewa. Atau kelainan.
Dari ujung pos jaga sayup-sayup suara tawa Petruk terbahak-bahak.
Ini adalah hari ketiga ia mengajari Bagong main gaple. Katanya ada teknik khusus.
Bagong setuju bulat-bulat. Kursus selama tiga malam. Soal rokok jadi urusan Bagong.
Nah sebenarnya itu yang dicari Petruk.
“Ciyee ciyee ciyee, terrr terr terrr”, begitu kicau prenjak
Gareng dari sangkar yang digantung di teras pendopo utama. “Ciyee ciye ciyee,
terrrrrrr”.
“Loh, Reng, burungnya kok berkicau malem-malem? Ga biasa
banget?”, tanya Sembadra.
Soal pertanyaan jenis ini, sebenarnya Gareng sudah mendapat
ratusan komentar, kritik dan saran. Tapi malam ini ia merasa menemukan jawaban
paling tepat untuk itu.
“O ini namanya burung prenjak, Non. Prenjak Nias. Prenjak
Nias memang begitu. Selalu berkicau malam untuk menandakan daerah sekitar aman
dan tenteram. Prenjak Nias juga menjaga keseimbangan feng shui dan mekanisme
tubuh, pas untuk orang yang tidak cocok kerja di air namun cocoknya jadi
pedagang”, papar Gareng mantap.
“Hahah. Gareng kamu ngaco!”
“Ngaco pangkal pandai, Non.”
“Ya ga lah. Rajin yang pangkal pandai. Eh Reng, ngomong-ngomong,
kok sepi ya.”
“Sepi gimana? Wong rame gini.”
“Ya.. ada yang ga ada kaya biasanya..”
“Ada yang ga ada gimana? Wong biasanya juga begini.”
“Eh, ngomong-ngomong, Mas Arjuna ada ga sih? Biasanya jam
segini kan ngopi di teras.”
“Heheheh. Nah ketauan kan. Ujung-ujungnya nyari Den Arjuna.
Den Arjuna sedang tidak boleh diganggu. Don’t distrupp. No wayy. Kemarin Dewi
Banowati juga kesini. Saya tolak juga. Nooo!”
“Halaah. Gareng sok-sok an tegas. Masa sih sampe segitunya?”
“Iya Non ini dhawuh dari Ndoro Yai Abiyasa. Den Arjuna sedang
dalam pertapaan khusus bareng Ndoro Kresna. Handphone-nya saja ga dipakai. Ini
saya yang bawa.”
“Oh. Gitu. Terus kemarin Banowati kesini? Bawa oleh-oleh ga?”
“Ya bawa biasa lah. Buah-buahan.”
“Oh. Gareng ini ada kue buat Mas Arjuna, tolong dikasihin ya.
Ada suratnya juga.”
“Lha saya nggak dikasih kuenya?”
“Ga usah. Udah ni kamu ini aja, rokok. Gudang Garam kan? Isi
16 itu.”
“Waaah. Ok ok terimakasih. Heheheh”, Gareng menahan senyum. Merasa ketiban
duren.
“Tapi bener kemarin Banowati ga ketemu juga?”
“Bener Non yakin. Den Arjuna sedang kajian serius soal siasat
perang bareng Ndoro Kresna. Soal Cakrabyuha atau Cakrakembang atau apa lah
nggak paham saya.”
“Ya udah. Oke. Itu surat n kue harus dianterin loh ya!”
“Berezzzz, Non!”
“Aku pulang dulu”, Sembadra turun pendopo dan mengenakan
high-heel nya.
“Lha nggak ngobrol-ngobrol sama saya aja Non??”
“Nggaaaakk.”
Corvette di-starter, “Brummm”. Sembadra menghilang, diantar sebuah
senyum di balik bayang tirai di kejauhan.

No comments:
Post a Comment