Sunday, April 9, 2017

Sembadra Arjuna dan Jalan Asmara

“Mau kemana Den?”, tanya Bagong sambil nyepit Samsoe sisa jatah tahlilan semalem.
Arjuna alias Janaka alias Kombangjali yang baru aja naruh sisir rambut mau gak mau harus menjawab,

“Keluar sebentar”. Diplomatis.

“Lha iya luarnya itu mana, apa luar negeri, apa luar angkasa. Soalnya nanti Nyi Rara Sembadra pasti tanya.” To the point.

“Yaudah soalnya kamu tanya. Ni aku mau ke Indomaret bentar beli rokok, ngisi angin, terus nanti pulang beli tensoplas buat bibirmu yang sok kritis itu. Paham ga?” Sarkastik tragis.

“Hummmm”, Bagong mecucu, “Ya sudah resiko ditanggung sendiri.”

Memang sudah menjadi kasus hari-hari ini, gerak-gerik Janaka yang mencurigakan mulai dari tampilannya yang selalu necis sampai rambut yang ga pernah kering dan sering keluar rumah terus. Rara Ireng yang tiap pagi siang sore tak jemu-jemu kampanye anti rokok sampai menjatah Bagong sebungkus sehari demi menjalankan tugas sebagai spionase. Si Kombangjali yang tampak lugu tapi diam-diam tak kalah taktik malah menjatah Bagong dua bungkus, untuk tutup mulut. Di sini jelas Bagong yang memegang kunci keuntungan atas dua pihak yang bersengketa, seperti makelar-makelar kasus. Memang repot kalau prinsip ‘wanipironan’ mulai menggeser prinsip-prinsip moral yang hari ini makin mahal, kalau masih ada stok.

Dan seperti biasanya datanglah Nyi Rara Ireng itu, timik-timik sambil menenteng tas merk Kremes.

“Bagong liat Mas Arjuna ga?”

Kremes adalah merk hasil adaptasi dari Hermes supaya lebih nglokal dan njawani. Sebagai aktivis perempuan, Rara Sembadra termasuk figur yang sama beraninya ketika melawan kuasa laki-laki atas perempuan dan kuasa merk-merk asing atas perempuan. Sebagai perempuan yang mandiri dalam ekonomi ia memegang teguh strategi bisnis Coco Chanel, if selling men fashion is profitable for you, womens double it. Ia mengeklaim kuasa dirinya atas Janaka dengan membuat perempuan-perempuan yang mendekati Suaminya itu minder ndlosor dan merasa teraniaya cukup dengan melihat purse-purse berkilau desainnya sendiri. Possessive tapi main e alus.

“Oh. Tadi keluar lagi beli tennnsoooplassssss”, saut Bagong melampiaskan njaremnya tadi. Meski hati njarem, tapi ia tetap harus profesional. Menjaga langganan.

“Sisiran rapi ga?”, Sembadra menukik.

“Ya… dibilang rapi bisa… ngga rapi bisa…”, ternyata Bagong juga seorang mancing mania.

“Plok”. Jatuh Surya sebungkus. “Nih rokok”. Bagong strike 12 poin.

“Jadi tuuu, tadi Den Arjuna pakai baju rapi sisiran rapi …blablabla casciscus…”, asap ngepul khajat kabul. Klasik memang.

Ternyata Arjuna lagi asik jadi Pendamping Desa yang sering keluar masuk ruang meeting ketemu lurah dan kadus-kadus. Arjuna merasa terpanggil mengawal dana 1,2 milyar dari pusat untuk tiap desa yang riskan disalahgunakan. Terlebih setelah ia tahu beberapa lurah dan kadus di daerahnya  kadang bingung apakah ndangdutan bisa dimasukkan dalam rangkaian kegiatan pembangunan desa dengan judul agenda “Peningkatan Motivasi Membangun Desa Dengan Ndangdutan”.

Di samping KPK dan BPK yang belum pernah masuk desa seperti ABRI, ia ingin menghabiskan masa 12 tahun pembuangannya setelah kalah main dadu pada pilpres lalu.

Di tengah rembug dengan para sesepuh desa, mendadak Rara Sembadra datang memarkir Corvette-nya. Mereka berdua kisruh sejenak -atau pura-pura kisruh biar mesra- lalu makan siang bersama di Warung Pecel Madiun di Jalan Asmar
a.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...