29 April 2014
Malam terasa mistis. Seperti malam-malam yang ada di film Van Helsing, seorang pemburu drakula. Si Wage dan Kliwon tersesat di sebuah kampung yang tak begitu banyak penghuninya. Mereka sedang berada di Rumania, Eropa, negeri yang konon merupakan tempat asal muasal para drakula. Mereka harusnya sudah berada di kampung halamannya di Jawa. Tapi karena ditipu calo mereka terdampar di tempat itu. Panjang ceritanya.
Kabut lambat laun makin tebal dibarengi hawa dingin yang menusuk tulang. Mobil van milik calo telah menggondol semua barang bawaan setelah meninggalkan mereka di situ. Wage dan Kliwon terus berjalan menyusuri aspal sepi. Kanan kirinya sawah. Di kejauhan tampak satu dua cahaya rumah. Jalan kecil berkelak-kelok disinari cahaya terang bulan purnama. Tak ada angin yang berhembus. Meski berkabut udaranya terasa sejuk. Mereka terus menyusuri jalan sampai di sebuah gapura yang terbuat dari batu disusun-susun. Di atasnya terbentang papan kayu yang disinari sebuah lampu jalan usang bertuliskan “Drakula Village” alias “Kampung Drakula”.
“Walahhh. Hahaha. Kayak di film aja Ge ada kampung drakula segala. Ada-ada aja orang sini”, Kliwon tertawa.
Letupan tawa Wage sedikit mendengus, tersengal karena tertahan. Mereka berdua melanjutkan langkah ditemani suara dua pasang sepatu dan binatang-binatang malam. Tembok batu-batu setinggi pinggang tersusun rapi di badan jalan. Di perempatan jalan tampak tenda dengan redup lampu minyak. Seperti warung makanan. Dua atau tiga orang terbayang duduk di bangku-bangku panjang yang mengelilingi meja besar. Wage dan Kliwon berjalan menghampiri tenda itu.
“Kok mirip warung angkringan aja ya Won…” komentar Wage.
Di depan tenda terpaku papan pada sebuah tiang kayu setinggi kepala. Karena penasaran Kliwon mendekati papan itu. Ada tulisan remang-remang, tidak jelas karena gelap. Ia mengambil handphone lalu menyinari papan itu. Kini tulisan tampak jelas dengan huruf kapital,
“SEGO KUCING MAS BAMBANG”
Kliwon yang kaget berteriak lantang,
“CUWONGGROSSEEEEEEEEE!!!! Ning kampung Eropa ngene kok ono kucingan?? TENAN PO RA IKI???!!”
Karena suaranya yang terlampau kencang, seorang pria keluar dari balik tenda angringan. Sweaternya hitam dilapisi dengan rompi dan jaket kulit. Ia memakai sepatu boots dan topi koboi. Semua serba hitam.
“Ayem sori ayem sori”, kata Kliwon segera meminta maaf. Ia agak ngeri dengan tatapan mata pria itu meski akhirnya melembut ramah.
“Njengengan piyantun Jawi nopo?”, kata pria itu.
“He? Dalem”, Kliwon makin mlongo. Mana ada orang Eropa bicara bahasa krama. “He?”
“Sampean wong Jowo Mas?”
“Lhahh. Kok saged boso Jawi??”, sahut Kliwon yang masih mlongo. Wage menimpali, “Geh Pak”.
“Kulo Abraham. Lengkap e Abraham Van Helsing”, jawab pria itu sambil tertawa kecil.
Mereka berdua diajak masuk ke kucingan itu. Di dalamnya ada dua orang pria lain yang berbicara dengan bahasa lokal setempat. Di depan mereka ada beberapa botol bir.
Kliwon dan Wage berkenalan lebih lanjut dengan Van Helsing. Mereka menceritakan apa yang telah terjadi termasuk sampai bagaimana calo itu membuat mereka terdampar di Rumania. Van Helsing juga banyak bercerita tentang dirinya. Ia adalah pemegang titel doktor di bidang sejarah yang entah bagaimana ceritanya bisa sampai jadi penjual nasi kucing.
Ia pernah tinggal di berbagai negara di dunia. Waktu di Indonesia ia ikut dengan rombongan penelitian sejarah sambil melakukan studi S2 di Jogja. Ia juga sempat bergabung dengan Clifford Geertz di penelitian Religion of Java Kutoarjo meski akhirnya berpisah karena suatu hal.
“Waktu di Jogja orang lebih suka memanggil aku Abraham. Tapi karena agak sulit, teman-teman di kucingan sering seenaknya memberi julukan Bambang. Ya sudah buatku nggak masalah. Sego Kucing Mas Bambang ini juga aku tiru dari angkringan-angkringan di Jogja.”
Wage dan Kliwon menyimak dengan antusias setiap penjelasan Bambang Van Helsing.
“Nah, sekarang pada mau pesan apa?”
“Susu jahe anget wonten mboten?” jawab Wage.
“Wonten”
“Kulo kofimix mawon”, sahut Kliwon.
Malam itu memberi ruang bagi dua orang yang sedang tersesat tersebut untuk mendengarkan berbagai kisah menarik dari Van Helsing. Ia pernah berburu drakula, berlayar ke Segitiga Bermuda, dan juga menunggangi gajah afrika. Kabut yang agak tebal membuat minuman panas mereka terasa lebih nikmat. Suasana hangat di bangku kucingan mengubah malam itu menjadi awal mula petualangan mereka.
-tamat-
Sebenarnya ini adalah versi homesick-ku pada kucingan di kampung halaman. Dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di negeri ini aku merasa ini petualangan. Kawanku dari Thailand mengatakan besok kau akan mengerti rasa tinggal di negeri asing, kalau sudah cukup lama di sini. Kakang guruku yang pernah ke Spanyol katanya juga baru merindukan kampung halamannya setelah enam bulan di sana. Ada juga kawan lain yang bilang, tinggal di luar negeri itu enaknya cuma beberapa bulan saja untuk jalan-jalan, kalau untuk menetap nggak enak. Kurasa sedikit ada benarnya juga. Kadang terasa ada masa-masa menyenangkan di sini, tapi ada juga sedikit masa-masa survival. Meski dari akar katanya survival itu perjuangan di antara hidup dan mati, tapi selama tidak benar-benar bikin mati, setiap keadaan bisa dibikin enjoy aja LA gi. Hehehe.
Selain itu dulu di dekat rumahku ada kucingan tempat aku nongkrong kalau lagi suntuk. Karena kadang aku keluar jam 11 atau jam 12, nggak ada teman yang bisa diajak nongkrong bareng. Alhasil di kucingan itu aku cuma berdua dengan bakulnya ditemani lampu bolam redup yang ditutupi kertas koran. Kadang juga ada mbah-mbah yang mampir ngopi sendirian di situ sambil ngrokok. Posisi kucingan itu di pinggir sawah di tepian kampung. Kadang ada satu dua motor yang lewat meski sepi. Karena sendiri kadang aku membayangkan bagaimana kalau lokasi tongkrongan kucingan ini dipindahkan di tempat yang sedikit mistis dan berkabut. Seperti di Transylvania, Rumania, tempat Van Helsing berburu drakula.

No comments:
Post a Comment