Malam itu sebenarnya cerah, namun larut di tengah kampus yang sunyi membuat suasana menjadi sedikit mencekam. Aku dan Mas Ulin barusan menyelesaikan kuliah di reading room Fakultas Agama Islam. Pukul 10.30. Karena sama-sama pulang laju ke Ungaran, kami berdua segera meninggalkan ruangan. Kami sama-sama mafhum tentang masalah bus jika sudah selarut itu. Alamat. Bisa berjam-jam kami menunggu di emperan Kaligawe.
Barangkali Mas Ulin sedang getol-getolnya belajar bahasa Inggris waktu itu. Ia mengajak aku untuk komitmen berbicara bahasa Inggris dimana saja kami bertemu. Tentu itu juga hal positif buatku. Malam itu ada email yang harus kukirim segera. Terpaksa aku mencari spot wifi di tengah jalan kami dari FAI. Mas Ulin bersedia menunggu. Tentu sambil kami bercakap-cakap bahasa Inggris. Conversation. Meski ala kadarnya.
Ketika melewati kolam ikan di samping gedung Fakultas Kedokteran Gigi, ada bau sangit yang sangat menyengat. Padahal tidak ada angin, apalagi asap. Kami berdua sadar itu bau yang tidak lazim. Gelapnya lingkungan kampus dan rimbunnya pohon beringin kanan-kiri memperkuat persepsi asal muasal bau itu. Darimana lagi kalau bukan ulah jin iseng. Kami sekedar memperbincangkannya sambil lalu.
Karena harus membuka laptop aku perlu mencari tempat untuk duduk. Satu-satunya tempat duduk yang dekat dengan kami hanyalah dudukan buk semen di sebelah kanan. Tepat persis di bawah pohon beringin. Aku perlu memilih sinyal wifi dan menulis pengantar email sehingga membuatku sedikit fokus pada layar. Suasana hening sementara waktu, masih dengan bau sangit yang menyengat itu.
Seketika Mas Ulin memecah keheningan. Ia bilang baru saja melihat setan dengan jelas. Suasana tiba-tiba merinding. Konyolnya, dalam suasana yang agak gonor itu, kami sempat diskusi dulu apa harus segera pergi atau tidak.
Sampai di tempat menunggu bus, baru kami bercerita tentang sosok setan itu. Ketika aku asik dengan laptop. Mas Ulin melihat ke arah kanan. Ke arah pohon beringin di ujung halaman perpus. Tepat di bawah sana katanya telah berdiri sosok hitam tinggi besar. Setinggi pohon mangga di dekatnya. Kedua matanya merah menyala. Gendruwo! Hiiii.
Tapi yang membuatku terus mengingat kejadian itu bukan adanya sosok jin itu. Ada kejadian konyol lagi dari sikap Mas Ulin waktu itu yang masih sering bikin aku tertawa. Kocak bukan main.
Orang awam umumnya akan langsung kaget dan lari ketika melihat sosok setan menyeramkan. Tapi tidak dengan Mas Ulin. Mungkin karena ia sedang semangatnya belajar bahasa Inggris itu. Ketika gendruwo tersebut nongol di depan Mas Ulin, dengan santainya ia pandangi penuh khidmat. Katanya sekitar 20 detik.
Setelah puas aku baru diberi tahu. Dan masih sempat-sempatnya ia mempraktikkan bahasa Inggris conversation waktu melihat setan! Ia berkata,
“Mas Imam… (tak lupa dengan intonasi British)... Do you see gendruwo??”
No comments:
Post a Comment