29 April 2014
Kalau
kita pergi ke Seoul, di sana ada patung raksasa dari laksamana Yi Sun
Sin yang berdiri di depan raja Sejong. Admiral Yi Sun Sin dikenal tak
pernah kalah dalam bertempur. Korea kuno waktu itu berada di antara dua
pengaruh kerajaan besar, yaitu Cina dan Jepang. Jika kondisi diplomatis
baik, Korea mengirim upeti pada kekaisaran Cina. Jika sedang tidak,
kadang terjadi invasi.
Di sisi lain, seringkali pasukan-pasukan
jepang di bawah shogun Tokugawa Eiyasu menyerang. Setelah berhasil
menyatukan Jepang paska perang Sekigahara (seingatku), Tokugawa
berambisi menguasai Korea. Ia mengirim berpuluh-puluh kapal dalam
beberapa invasinya. Namun sayang kapal-kapal itu tak pernah benar-benar
berhasil mengalahkan armada laut Korea. Jenderal Yi Sun Sin lah yang
menjadi laksamana angkatan lautnya.
Yang paling aku suka dari Yi
Sun Sin adalah karakternya. Awalnya ia seorang katrok yang idealis.
Kurasa benar-benar katrok ndeso blokosuto pwooooll. Hehehe. Seingatku ia
lahir dari keluarga Budha yang taat. Orang tuanya mengirimnya untuk
belajar konfusionisme. Yang kita tahu di masa itu didikan moral kongfuse
terkenal amat kuat. Itu kurasa yang membuatnya jadi idealis. Uniknya,
Yi Sun Sin ini belajar konfisionisme terlalu lama. Tidak serius meniti
karir sejak muda seperti anak-anak jaman sekarang. Kerjaannya cuma
bantuin ibunya sambil belajar gitu-gitu doang sampai umur 30an lebih.
Jadi bayangkan aja kalau di kita itu dia seorang santri ndeso yang
sarungan terus kesana kemari, kerjaannya nyantriii mulu.
Baru
setelah umur 30 sekian tahun ia pingin masuk tentara kerajaan. Ia
mendaftar dan diterima. Karir ketentaraan ia jalani. Pangkatnya nggak
rendah-rendah amat, tapi juga nggak tinggi-tinggi amat. Katakanlah,
sersan. Waktu dia jadi sersan, semua teman dan pimpinannya mengajak dia
untuk melanggar aturan. Tidak dijelaskan detail aturan apa yang
dilanggar, tapi bayangkan aja waktu itu Yi Sun Sin diajak korupsi
menggelapkan anggaran.
Nah hebatnya, si Yi Sun Sin ini
benar-benar nggak mau ikut-ikutan. Mungkin karena idealisme moralnya
yang kuat dan didorong dengan tingkat kekatrok-annya yang tinggi itu ia
berani ngeyel. Ngeyel karena benar. Bahkan ia berani melawan atasannya
dan akhirnya sampai berkelahi dengan teman-temannya. Karena idealismenya
itu ia sampai diturunkan pangkat jadi tentara kacung bawahan selama
beberapa tahun. Barangkali mungkin sosoknya hampir dilupakan karena
terlampau jadi orang nggak penting. Yah, begitulah. Apes lah dia. Tapi
waktu ia terkena kasus itu, ada salah seorang kawan lamanya yang sudah
jadi kolonel. Ia tahu bagaimana watak Yi Sun Sin dan apa yang sebenarnya
terjadi. Kolonel itu juga tahu skill leadership Yi Sun Sin yang memang
mumpuni. Alhasil ketika kolonel itu jadi jenderal penting, Yi Sun Sin
diangkat kembali dari lapisan kerak bumi. Ya semirip waktu Gus Dur
mengangkat Mahfud MD dari sekedar dosen terus jadi Menhan kala itu.
Akhirnya Yi Sun Sin berhasil memimpin armada laut Korea bertempur
melawan Jepang dengan kemenangan-kemenangan yang kisahnya benar-benar
layak dicatat tinta emas sejarah.
No comments:
Post a Comment