Wednesday, May 10, 2017

Maya Sari



Sembadra memarkir mobil, membuka pintu dan beranjak mengayunkan kakinya di atas tanah basah. Siang telah menjadi petang yang temaram di Bali, di sebuah restauran tempat ia dan Arjuna saling memandang pertama kali. Maya Sari. Blazer panjangnya membelah udara dingin yang masih wangi dari aroma hujan, menyelimutinya dari tiupan angin lembah yang menari mengitari bukit-bukit Ubud.

Mencari Danasmara ialah mengunjungi lagi kenangan indah yang ia rindui, dan merindukannya berarti memeluk kenangan itu. Peluk yang tak ingin dilepas meski ia merasakan pedih dari jerat-jerat durinya, dari pelukan yang ternyata hampa. 

Bunga-bunga Kamboja melambai rendah di pelataran pintu masuk. Lampu-lampu emas mulai dinyalakan menyinari pilar saka kokoh dan bilah-bilah kayu tempat ia berjalan. Kolam dengan air jernih dan tenang memantulkan nyala lilin-lilin kecil yang mengapung di atasnya. 

Maya Sari ialah tempat para raja beristirahat, para permaisuri memanjakan diri, atau tempat para begawan melamun. Pendapa-pendapanya tinggi menjulang. Pilarnya saka-saka yang kokoh dan tak lapuk. Lantainya bilah-bilah kayu. Ranjang dan meja-kursinya berukir dalam. Lampu gantungnya semburat emas. Tirainya sutra. Gerbangnya gapura tinggi bertingkat. Pagarnya lempeng-lempeng besar batu alam. Para penjaga dan dayangnya ialah bukit-bukit dan angin Ubud.

Sembadra memberikan blazernya pada seorang pelayan dan duduk dimana Arjuna biasa duduk, di meja tengah. Pramusaji datang menuangkan air putih dan memberikan buku menu. Namun Sembadra datang ke situ bukan untuk makan. Juga bukan untuk minum. Ia ingin merasai lagi kenangan, menuruti kangen, atau menghibur tangis. Maka ia memesan menu yang pernah dipesan Danasmara,

“Sate bebek. Es Daluman"

Daftar menu diambil dan menghilang dari meja. Pramusaji pergi dan menghilang dari pandangan. Namun bayang-bayang Danasmara malah muncul. Sembadra beranjak dan berdiri di tepi pagar pembatas. Melemparkan pandangan pada bintang-bintang kecil yang mulai berkelip.

Langit surut.
Angin berhembus pelan.
Udara yang basah meniupkan kabut.
Sembadra digelayuti rindu yang tak mau disembuhkan.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...