Sembadra memarkir mobil, membuka pintu dan beranjak
mengayunkan kakinya di atas tanah basah. Siang telah menjadi petang yang temaram
di Bali, di sebuah restauran tempat ia dan Arjuna saling
memandang pertama kali. Maya Sari. Blazer panjangnya membelah udara dingin yang
masih wangi dari aroma hujan, menyelimutinya dari tiupan angin lembah yang
menari mengitari bukit-bukit Ubud.
Mencari Danasmara ialah mengunjungi lagi kenangan indah yang
ia rindui, dan merindukannya berarti memeluk kenangan itu. Peluk yang tak ingin
dilepas meski ia merasakan pedih dari jerat-jerat durinya, dari pelukan yang ternyata hampa.
Bunga-bunga Kamboja melambai rendah di pelataran
pintu masuk. Lampu-lampu emas mulai dinyalakan menyinari pilar saka kokoh dan bilah-bilah
kayu tempat ia berjalan. Kolam dengan air jernih dan tenang memantulkan nyala
lilin-lilin kecil yang mengapung di atasnya.
Maya Sari ialah tempat para raja beristirahat, para permaisuri memanjakan diri, atau tempat para begawan melamun.
Pendapa-pendapanya tinggi
menjulang. Pilarnya saka-saka yang kokoh dan tak lapuk. Lantainya
bilah-bilah kayu. Ranjang dan meja-kursinya berukir dalam. Lampu gantungnya semburat emas. Tirainya
sutra. Gerbangnya gapura tinggi
bertingkat. Pagarnya lempeng-lempeng besar batu alam. Para penjaga dan dayangnya ialah bukit-bukit dan angin Ubud.
Sembadra memberikan blazernya pada seorang pelayan dan
duduk dimana Arjuna biasa duduk, di meja tengah. Pramusaji datang menuangkan
air putih dan memberikan buku menu. Namun Sembadra datang ke situ bukan untuk
makan. Juga bukan untuk minum. Ia ingin merasai lagi kenangan, menuruti
kangen, atau menghibur tangis. Maka ia memesan menu yang pernah dipesan Danasmara,
“Sate bebek. Es Daluman"
Daftar menu diambil dan menghilang dari meja. Pramusaji
pergi dan menghilang dari pandangan. Namun bayang-bayang Danasmara malah muncul. Sembadra
beranjak dan berdiri di tepi pagar pembatas. Melemparkan pandangan pada bintang-bintang
kecil yang mulai berkelip.
Langit surut.
Angin berhembus pelan.
Udara yang basah meniupkan kabut.
Sembadra digelayuti rindu yang tak mau disembuhkan.
Sembadra digelayuti rindu yang tak mau disembuhkan.
No comments:
Post a Comment