Brussels di bulan Februari masih menyimpan angin-angin musim
dingin yang dibiarkannya berlarian. Sembadra duduk di sebuah café dengan satu
dua pengunjung yang menikmati kopi atau coklat hangat. Di hadapannya sebentang
jendela membingkai perempatan jalan yang lengang, tempat ia melepas pandang
dari kepenatan membaca jurnal. Sesekali ia mencorat-coretnya atau menyisipkan simpulan.
Kepulan uap dari seduhan Americano bergoyang meliuk-liuk di sampingnya. Cangkir
kopinya besar, hampir sebesar mangkuk. Isinya tinggal setengah.
Musim dingin membuat kota menjadi lebih sepi, beku, dan
kering. Namun salju menyelimutinya, membuatnya lupa dari sepi, dan dari kerinduannya
pada hangat sinar matahari. Sekian judul jurnal telah membius kerinduan
Sembadra pada Danasmara, meski tak seutuhnya. Kadang, bayang senyum dan gurauannya
muncul pada butir-butir embun di kaca jendela, atau genangan air hujan tempat
ia membuang lamunan.
Di seberang jalan traffic light berkedip-kedip. Nyalanya
kuning samar karena tertutup kabut. Dua orang duduk di halte menunggu bus yang
tak kunjung datang. Kabut semakin tebal dan perlahan menjelma halimun yang
seakan bergerak, menunggui jalan, dan mengamati dari kejauhan. Sebuah sosok muncul
dari seberang jalan, berjalan ke arah jendela tempat Sembadra memandang. Postur
tubuhnya tak asing, caranya melangkah terasa amat familiar. Sembadra dihinggapi
penasaran yang sangat. Jantungnya berdebar-debar. Terus diamatinya sosok itu
dari balik kaca sampai ia berhenti di bawah lampu jalan tepat di depannya, dan
melemparkan senyum.
“Mas Arjuna!”
Sembadra melompat. Cangkir kopi tersenggol, hampir tumpah.
Kursi terjatuh. Tak ia hiraukan. Ia berlari membuka pintu café dan menghamburkan
tubuhnya memeluk Danasmara,
“Mas!”
Ia peluk erat dan semakin erat. Lalu ia menangis. Ia pandang
wajah Danasmara. Ia memeluk lagi, dan menangis lagi. Danasmara mendekap
Sembadra, dan menyelimutkan mantelnya. Digoyangkan dekapannya ke kanan dan
kiri,
“Hey..”, sapanya pelan.
“Mas, aku cariin Mas kemana-mana. Sampai ke Wina, ke Milan, ke
London, sampai ke Brussels!”
“Kenapa sampai jauh-jauh. Aku kan cuma pergi sebentar. Hayo
siapa yang shopping ngabisin banyak duit?”, kata Danasmara. Dua ibu jarinya menyeka
air mata Sembadra dan ia kecup bulu-bulu lembut di keningnya.
Sembadra tersenyum, “Mas tunggu di sini ya. Aku ambil tas di dalam terus aku
ikut Mas. Aku ikut kemana aja Mas pergi. Mau ke hutan, mau ke laut, aku ga
peduli lagi. Aku ikut! Tunggu!”
“Ga usah..”
Sembadra berlari masuk ke café. Dibukanya pintu dan
dihampiri tempat ia duduk tadi. Sekejap ia masukkan semua kertas dan pulpen
yang berserakan di meja. Ia jinjing tasnya dan berlari lagi keluar café. Matahari
telah bersinar terang. Kabut yang tebal menghilang tanpa bekas seakan tak
pernah di situ. Begitu juga Danasmara. Ia tengok kanan kiri. Ia memandang dari
ujung ke ujung. Tak ada siapa-siapa. Sembadra shock. Lututnya lunglai. Tubuhnya
seketika lemas. Ia hampir kehilangan tenaga dan keseimbangan. Batin Sembadra
bergolak,
“Dimana Mas
Arjuna barusan? Dimana kabut tebal barusan? Apa ini halusinasi? Tapi bekas usapan air matanya nyata.
Dan semua memang terasa sangat nyata. Dimana Mas Arjuna yang kupeluk barusan?”
Ia buka ponselnya, dan langsung mengirim pesan Line,
“Mas lagi di Brussels kan???”
Seperti yang lalu, tak ada jawaban. Sembadra dicekik hampa
yang tiba-tiba.
