Thursday, May 11, 2017

Halimun



Brussels di bulan Februari masih menyimpan angin-angin musim dingin yang dibiarkannya berlarian. Sembadra duduk di sebuah café dengan satu dua pengunjung yang menikmati kopi atau coklat hangat. Di hadapannya sebentang jendela membingkai perempatan jalan yang lengang, tempat ia melepas pandang dari kepenatan membaca jurnal. Sesekali ia mencorat-coretnya atau menyisipkan simpulan. Kepulan uap dari seduhan Americano bergoyang meliuk-liuk di sampingnya. Cangkir kopinya besar, hampir sebesar mangkuk. Isinya tinggal setengah. 

Musim dingin membuat kota menjadi lebih sepi, beku, dan kering. Namun salju menyelimutinya, membuatnya lupa dari sepi, dan dari kerinduannya pada hangat sinar matahari. Sekian judul jurnal telah membius kerinduan Sembadra pada Danasmara, meski tak seutuhnya. Kadang, bayang senyum dan gurauannya muncul pada butir-butir embun di kaca jendela, atau genangan air hujan tempat ia membuang lamunan. 

Di seberang jalan traffic light berkedip-kedip. Nyalanya kuning samar karena tertutup kabut. Dua orang duduk di halte menunggu bus yang tak kunjung datang. Kabut semakin tebal dan perlahan menjelma halimun yang seakan bergerak, menunggui jalan, dan mengamati dari kejauhan. Sebuah sosok muncul dari seberang jalan, berjalan ke arah jendela tempat Sembadra memandang. Postur tubuhnya tak asing, caranya melangkah terasa amat familiar. Sembadra dihinggapi penasaran yang sangat. Jantungnya berdebar-debar. Terus diamatinya sosok itu dari balik kaca sampai ia berhenti di bawah lampu jalan tepat di depannya, dan melemparkan senyum.

“Mas Arjuna!”

Sembadra melompat. Cangkir kopi tersenggol, hampir tumpah. Kursi terjatuh. Tak ia hiraukan. Ia berlari membuka pintu café dan menghamburkan tubuhnya memeluk Danasmara,

“Mas!”

Ia peluk erat dan semakin erat. Lalu ia menangis. Ia pandang wajah Danasmara. Ia memeluk lagi, dan menangis lagi. Danasmara mendekap Sembadra, dan menyelimutkan mantelnya. Digoyangkan dekapannya ke kanan dan kiri,

“Hey..”, sapanya pelan.

“Mas, aku cariin Mas kemana-mana. Sampai ke Wina, ke Milan, ke London, sampai ke Brussels!”

“Kenapa sampai jauh-jauh. Aku kan cuma pergi sebentar. Hayo siapa yang shopping ngabisin banyak duit?”, kata Danasmara. Dua ibu jarinya menyeka air mata Sembadra dan ia kecup bulu-bulu lembut di keningnya.

Sembadra tersenyum, “Mas tunggu di sini ya. Aku ambil tas di dalam terus aku ikut Mas. Aku ikut kemana aja Mas pergi. Mau ke hutan, mau ke laut, aku ga peduli lagi. Aku ikut! Tunggu!”

“Ga usah..”

Sembadra berlari masuk ke café. Dibukanya pintu dan dihampiri tempat ia duduk tadi. Sekejap ia masukkan semua kertas dan pulpen yang berserakan di meja. Ia jinjing tasnya dan berlari lagi keluar café. Matahari telah bersinar terang. Kabut yang tebal menghilang tanpa bekas seakan tak pernah di situ. Begitu juga Danasmara. Ia tengok kanan kiri. Ia memandang dari ujung ke ujung. Tak ada siapa-siapa. Sembadra shock. Lututnya lunglai. Tubuhnya seketika lemas. Ia hampir kehilangan tenaga dan keseimbangan. Batin Sembadra bergolak,

“Dimana Mas Arjuna barusan? Dimana kabut tebal barusan? Apa ini halusinasi? Tapi bekas usapan air matanya nyata. Dan semua memang terasa sangat nyata. Dimana Mas Arjuna yang kupeluk barusan?”

Ia buka ponselnya, dan langsung mengirim pesan Line,

“Mas lagi di Brussels kan???”

Seperti yang lalu, tak ada jawaban. Sembadra dicekik hampa yang tiba-tiba. 

Lonesome Lady



Di suatu Minggu pagi yang cerah Sembadra menghampiri Gareng, Petruk, dan Bagong di padepokan Sapta Arga. Mereka bertiga sedang memberi makan ayam dan merpati. Sembadra mengajak mereka pergi jalan-jalan ke mall. Karena hari Minggu disebut hari libur maka mereka bertiga menerima tawaran dengan girang. Pringas-pringis, cengengas-cengenges, hore! Petruk berebut dengan Gareng duduk di depan. Gareng kalah. Bagong di belakang. Sembadra nyetir. “Brummm”. Pakan ayam ditinggal berserakan.

“Non, kita mau pergi ke mall yang mana?”, tanya Bagong girang.

“Ke mall yang paling buessarr”, jawab Sembadra mantap.

“Hehe. Mall yang besar. Shopping. Shopping. Shopping!”, kata Petruk menikmati pemandangan.

“Bagong kamu udah mandi belum? Kamu bauk!”, sela Gareng.

“Sudah donk. Gareng riwil!”, tukas Bagong.

“Non, nanti mampir ke toko peralatan masak ya? Pingin lihat-lihat”, kata gareng.

“Gampang”, jawab Sembadra di balik kacamata hitamnya yang berbingkai tebal.

Corvette merah melaju kencang, meliak-liuk menari menyusuri jalan desa. Stereo memutar denting gitar La Paloma dengan nuansa Spanish. Sawah-sawah membentang dipagari pepohonan kelapa. Mentari bertengger di atas kaki gunung. Sapi dan kerbau menyeberang jalan. Bebek-bebek mandi di kali. Gareng, Petruk, dan Bagong melamunkan apa yang ingin mereka beli. Barangkali hoki. Gratis. 

Sampai di mall yang paling buesar mereka berempat mulai jalan. Sembadra dikawal Petruk yang jambulnya klimis rapi karena sudah diplintir terus sejak tadi. Gareng mengikuti di belakang bersama Bagong yang jalan megal-megol.

Di outlet sepatu, Sembadra memilih-milih wedges,

“Gareng, ini sama ini bagus mana?”

Petruk dan Bagong bengong tak paham. Gareng menjawab sekenanya,

“Yang merah OK. Yang hijau cantik”.

Keduanya diangkut Sembadra. Petruk melihat-lihat sepatu boots kulit. Ditimang-ditimangnya sepatu yang paling mahal, lalu dicoba sambil berkaca.

“Ambil aja Truk. Aku beliin”, kata Sembadra.

Bagong dan Gareng melotot. Petruk menelan ludah,

 “Wow! Okei. Thank you!”.

“Non! Ayo kita lihat-lihat batiiiik!!”, Bagong usul seperti proklamator teriak merdeka.

“Yuuk”, jawab Sembadra enteng.

Gareng makin serius memikirkan apa yang ingin ia beli.

Mereka berempat mengelilingi mall dari ujung ke ujung, dari lantai ke lantai. Setiap outlet yang SPG-nya cantik dimasuki Petruk. Outlet-outlet yang jual baju warna-warni dimasuki Bagong. Gareng mengangkut semua peralatan masak yang canggih. Sembadra enteng main gesek kartu. Anehnya semakin banyak yang dibeli, ia semakin puas.

Tas-tas belanjaan dijinjing disana-sini. Petruk dibelikan sepasang sepatu, 2 kemeja, 2 celana jeans, jaket parka, dan kacamata. Bagong dibelikan 4 batik, 2 kemeja, jas, celana, dan kopiah hitam. Gareng dibelikan microwave, panci presto, wajan teflon, seperangkat pisau dapur mulai dari yang kecil sampai besar, topi koki Perancis, dan celemeknya. Sembadra memborong blues bermacam-macam warna dan daleman-daleman. Semuanya barang mahal.

Pada perjalanan pulang mereka mampir ke restaurant Pizza. Bagong yang ditugasi memilih menu. Hasilnya, dipesan semuanya. Sebagian dibawa pulang.

Senja menjemput. Mereka pulang. Corvette merah kembali menyusuri jalan yang sama. Mobil penuh sesak dengan perabotan dan barang belanjaan.

“Barang belanjaan sebanyak ini, habis berapa untuk shopping tadi Non?”, tanya Gareng.

“Ga tau. Masih kurang banyak belanjanya”, jawab Sembadra memegang setir.

“Kuat ya Non kartunya. Digesek terus ga rusak”, kata Bagong.

“Hahaha! Ya enggak donk Gong. Kartunya ga bisa rusak. Isinya yang bisa jebol”, kata Petruk.

“Iya maksudku itu Truk!”, kata Bagong.

“O… Santai”, jawab Sembadra enteng. Sangat enteng.

Di belahan bumi lain yang tak diketahui Sembadra. Di negeri seberang lautan nun jauh di sana. Danasmara yang sedang menarik uang tunai mengerutkan dahi. Saldo ATM-nya hampir kosong.

“Ada apa? Apa aku harus pulang?"

Wednesday, May 10, 2017

Maya Sari



Sembadra memarkir mobil, membuka pintu dan beranjak mengayunkan kakinya di atas tanah basah. Siang telah menjadi petang yang temaram di Bali, di sebuah restauran tempat ia dan Arjuna saling memandang pertama kali. Maya Sari. Blazer panjangnya membelah udara dingin yang masih wangi dari aroma hujan, menyelimutinya dari tiupan angin lembah yang menari mengitari bukit-bukit Ubud.

Mencari Danasmara ialah mengunjungi lagi kenangan indah yang ia rindui, dan merindukannya berarti memeluk kenangan itu. Peluk yang tak ingin dilepas meski ia merasakan pedih dari jerat-jerat durinya, dari pelukan yang ternyata hampa. 

Bunga-bunga Kamboja melambai rendah di pelataran pintu masuk. Lampu-lampu emas mulai dinyalakan menyinari pilar saka kokoh dan bilah-bilah kayu tempat ia berjalan. Kolam dengan air jernih dan tenang memantulkan nyala lilin-lilin kecil yang mengapung di atasnya. 

Maya Sari ialah tempat para raja beristirahat, para permaisuri memanjakan diri, atau tempat para begawan melamun. Pendapa-pendapanya tinggi menjulang. Pilarnya saka-saka yang kokoh dan tak lapuk. Lantainya bilah-bilah kayu. Ranjang dan meja-kursinya berukir dalam. Lampu gantungnya semburat emas. Tirainya sutra. Gerbangnya gapura tinggi bertingkat. Pagarnya lempeng-lempeng besar batu alam. Para penjaga dan dayangnya ialah bukit-bukit dan angin Ubud.

Sembadra memberikan blazernya pada seorang pelayan dan duduk dimana Arjuna biasa duduk, di meja tengah. Pramusaji datang menuangkan air putih dan memberikan buku menu. Namun Sembadra datang ke situ bukan untuk makan. Juga bukan untuk minum. Ia ingin merasai lagi kenangan, menuruti kangen, atau menghibur tangis. Maka ia memesan menu yang pernah dipesan Danasmara,

“Sate bebek. Es Daluman"

Daftar menu diambil dan menghilang dari meja. Pramusaji pergi dan menghilang dari pandangan. Namun bayang-bayang Danasmara malah muncul. Sembadra beranjak dan berdiri di tepi pagar pembatas. Melemparkan pandangan pada bintang-bintang kecil yang mulai berkelip.

Langit surut.
Angin berhembus pelan.
Udara yang basah meniupkan kabut.
Sembadra digelayuti rindu yang tak mau disembuhkan.

Tuesday, May 9, 2017

Setelah Kukirim Surat



Puisi Rendra ini dikutip oleh Pak Sapardi tanpa menyebutkan judulnya

Puisi tentang kemantapan
Seperti ayunan cangkul yang pasti
Langkah-langkah tanpa ragu

Dan tentang prinsip-prinsip sederhana yang diyakini tidak dengan lewat mempertanyakan, namun merasakannya dari hasil olahan hidup, hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, tahun-tahun, dan kehidupan

bahwa kesederhanaan ternyata bisa dipertahankan tanpa rasa minder
dan kesederhanaan yang seasik itu ternyata membahagiakan:

---

Menyusuri tanggul kali ini
aku ‘kan sampai ke rumahnya.
Sawah di kanan-kiri
dan titian dari bambu
melintasi kali.

Menjalani tanggul berumput ini
aku ‘kan sampai ke rumahnya
yang besar dan lebar
dengan berpuluh angsa di halaman,
pohon-pohon buahan, lambang-lambang kesuburan,
dan balai-balai yang tentram.

Lalu sebagai dulu
akan kujumpai ia mencangkul di kebunnya
dengan celana hitam dan dada terbuka
orang yang tahu akan hidupnya:
orang yang pasti akan nasibnya.
Ia akan mengelu-elu kedatanganku
dan bertanya:
“Apa kabar dari kota?”

Dadanya bagai daun talas yang lebar
dengan keringat berpercikan.
Ia selalu pasti, sabar dan sederhana.
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya.

Menyusuri kali irigasi
aku ‘kan sampai ke tempat yang dulu
aku ‘kan sampai kepada kenangan:
ubi goreng dan jagung bakar;
kopi yang panas di teko tembikar,
rokok cengkeh dan nipah,
dan gula jawa di atas cawan.

Kemudian akan datang malam:
bulan bundar di atas kandang,
angin yang lembut
bangkit dari sawah tanpa tepi,
cengkerik bernyanyi dari belukar,
dan di halaman yang lebar
kami menggelar tikar.

Menyusuri jalan setapak ini
jalan setapak di pinggir kali
jalan setapak yang telah kukenal
aku ‘kan sampai ke tempat yang dulu:
udara yang jernih dan sabar
perasaan yang pasti dan merdeka
serta pengertian yang sederhana.

Tuesday, May 2, 2017

Menapak Jalan Sekangen




Sorot mentari sore yang tak lagi terik menyinari padepokan Sapta Arga. Semburat emasnya memantul pada lembut kulit Sembadra yang halus bagai sutra dan putih merona pualam. Sayang pemiliknya sedang cemberut menekuk wajah karena kangennya yang tak kunjung sampai. Sosok yang ditunggu-tunggu parasnya untuk diajak bercanda atau sekedar disapa, tak kunjung muncul. Telah kali ke sekian ia menyetir sendiri Corvette-nya mengunjungi padepokan Sapta Arga tiap sore, atau malam. Dimana pelepas kangen Sembadra itu? Dimana gerangan Arjuna Danasmara?

Yang pasti selalu ia temui selang-seling bergantian di teras pendapa utama padepokan itu, ialah teman setia Arjuna di masa-masa pertapaan. Kalau tidak ketemu Petruk ya Bagong, kalau tidak ketemu Bagong ya Gareng.

“Bagong aku lagi suntuk. Kamu mainan apa sih tuh?”, tanya Sembadra memecah bosan.

“O ini namanya nglinthing rokok Non, pakai alat manual. Hehehe. Asik lho”, Bagong sibuk mencari kertas garet.

“Masa sih asik? Sini coba aku lihat. Caranya nglintink gimana?”

“Nglinthing Non, bukan nglintink. Nglin…thing. Ini kertas garetnya. Itu tembakaunya diambil dulu. Tembakau istimewa dari Temanggung, sudah diperam dengan campuran tembakau jimat, jadi enak”  

“Mana coba. Bagong, aku yang nglintink kamu nanti yang ngrokok ya? Coba nanti enak ga.”

“Yaaaa”, jawab Bagong hepi. “Mau dikasih cengkeh dan menyan ga Non? Hehe”

“Untuk apa sih?”

“Ya biar komplit donk” 

“Kalau makin komplit makin enak?”

“Betull. Ini cengkehnya ditabur, yang rata. Menyan-nya harus dilembutkan dulu, dideplok. Kalau menyan dikasih sedikit saja” 

“Kruess kruess kruesss”, Bagong ndeplok menyan. 

“Segini Gong?”, Sembadra meracik tembakau. 

“O.K. Nah itu digulung pakai alat. Ditarik pelan saja, tapi mantap. Kertas garetnya disisakan sedikit untuk dilem”

“Greeeett gret gret”, Sembadra menarik alat gulungan rokok perlahan. Dioleskan sedikit lem. 

“Nih Gong dah jadiii. Bagus kan lintingankuu? Heheh”

“Halah bagus apa. Linthingan mletat-mletot gitu. Hahaaa”

“Lho Bagong ini tuh namanya seni! Ni cobain.”

“Crik, crik, jessss”, Bagong menyulut rokok. Sehisap. Dua hisap, “Fuuuuuh”

“Gimana Gong rasanya? Enak?”

“Yaaaa. Boleh lah. Enak”

“Hehehe, ya jelas lah enak siapa dulu yang nglintink”

“Lha wong tembakaunya juga enak” 

“Eh.. Bagong.. Mas Juna suka rokok linthingan gini juga ga sih?”, rasa hampa kembali menyusupi hati Sembadra. Udara yang seakan pergi. Sesak di dada. 

“Den Arjuna? Ya…  kadang nglinthing kalau lagi isenk”

Sembadra melamun. Pikirannya sedang mengembara ke tempat yang tak dimengerti Bagong sampai kemana. Ujung matanya mulai sedikit berembun, meski lalu ia putus lamunan itu dengan meminum teh manis di depannya. 

“Kangen Den Arjuna Non?” sela Bagong pelan meraba perasaan Sembadra. 

“Udah ah aku pulang dulu”, Sembadra mendadak pamit. Pergi. Hilang.


untuk semua kenangan
yang disimpan di balik bayang genangan hujan
untuk semua rindu 
yang dititipkan pada gores embun kaca-kaca jendela
dan tiap kangen
yang disisipkan pada bait-bait yang tak terbaca 

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...