Sunday, April 30, 2017

Kangen


 
Malam masih muda dan dingin. Kabut menyusup ruas-ruas pepohonan pinus di belakang padepokan Sapta Arga. Segala jenis unggas yang berkokok dan berkicau di pagi hari tidur lelap di dahan-dahan pohon dan sangkar-sangkar. Kecuali burung prenjak milik Gareng, pagi – siang - sore, prenjak tidur, malam malah berkicau. Istimewa. Atau kelainan. 

Dari ujung pos jaga sayup-sayup suara tawa Petruk terbahak-bahak. Ini adalah hari ketiga ia mengajari Bagong main gaple. Katanya ada teknik khusus. Bagong setuju bulat-bulat. Kursus selama tiga malam. Soal rokok jadi urusan Bagong. Nah sebenarnya itu yang dicari Petruk.

“Ciyee ciyee ciyee, terrr terr terrr”, begitu kicau prenjak Gareng dari sangkar yang digantung di teras pendopo utama. “Ciyee ciye ciyee, terrrrrrr”.

“Loh, Reng, burungnya kok berkicau malem-malem? Ga biasa banget?”, tanya Sembadra.

Soal pertanyaan jenis ini, sebenarnya Gareng sudah mendapat ratusan komentar, kritik dan saran. Tapi malam ini ia merasa menemukan jawaban paling tepat untuk itu.

“O ini namanya burung prenjak, Non. Prenjak Nias. Prenjak Nias memang begitu. Selalu berkicau malam untuk menandakan daerah sekitar aman dan tenteram. Prenjak Nias juga menjaga keseimbangan feng shui dan mekanisme tubuh, pas untuk orang yang tidak cocok kerja di air namun cocoknya jadi pedagang”, papar Gareng mantap.

“Hahah. Gareng kamu ngaco!”

“Ngaco pangkal pandai, Non.”

“Ya ga lah. Rajin yang pangkal pandai. Eh Reng, ngomong-ngomong, kok sepi ya.”

“Sepi gimana? Wong rame gini.”

“Ya.. ada yang ga ada kaya biasanya..”

“Ada yang ga ada gimana? Wong biasanya juga begini.”

“Eh, ngomong-ngomong, Mas Arjuna ada ga sih? Biasanya jam segini kan ngopi di teras.”

“Heheheh. Nah ketauan kan. Ujung-ujungnya nyari Den Arjuna. Den Arjuna sedang tidak boleh diganggu. Don’t distrupp. No wayy. Kemarin Dewi Banowati juga kesini. Saya tolak juga. Nooo!”

“Halaah. Gareng sok-sok an tegas. Masa sih sampe segitunya?”

“Iya Non ini dhawuh dari Ndoro Yai Abiyasa. Den Arjuna sedang dalam pertapaan khusus bareng Ndoro Kresna. Handphone-nya saja ga dipakai. Ini saya yang bawa.”

“Oh. Gitu. Terus kemarin Banowati kesini? Bawa oleh-oleh ga?”

“Ya bawa biasa lah. Buah-buahan.”

“Oh. Gareng ini ada kue buat Mas Arjuna, tolong dikasihin ya. Ada suratnya juga.”

“Lha saya nggak dikasih kuenya?”

“Ga usah. Udah ni kamu ini aja, rokok. Gudang Garam kan? Isi 16 itu.”

“Waaah. Ok ok terimakasih. Heheheh”, Gareng menahan senyum. Merasa ketiban duren.

“Tapi bener kemarin Banowati ga ketemu juga?”

“Bener Non yakin. Den Arjuna sedang kajian serius soal siasat perang bareng Ndoro Kresna. Soal Cakrabyuha atau Cakrakembang atau apa lah nggak paham saya.”

“Ya udah. Oke. Itu surat n kue harus dianterin loh ya!”

“Berezzzz, Non!”

“Aku pulang dulu”, Sembadra turun pendopo dan mengenakan high-heel nya.

“Lha nggak ngobrol-ngobrol sama saya aja Non??”

“Nggaaaakk.”

Corvette di-starter, “Brummm”. Sembadra menghilang, diantar sebuah senyum di balik bayang tirai di kejauhan.

Saturday, April 29, 2017

Recuerdos de la Alhambra


Konon, suara paling seksi ialah denting lembut dari adukan gelas perempuan yang membuatkan minum tanpa bertanya, tanpa diminta. Dentingan yang semirip denting tremolo senar gitar Francisco Tarrega saat memetik nada-nada “Recuerdos de la Al-Hambra”. Juga sama-sama sebuah pemberian bagi yang terkasih. 

Batara gitar masa romantik dari tanah Spanyol itu menyisipkan sebuah surat yang mengantar gubahan “Memories of Alhambra”, 

“Karena aku tak bisa memberikanmu sebuah kado atau hal yang kau suka untuk ulang tahunmu, terimalah ekstase puitis yang tak seberapa ini, diukirkan pada jiwaku oleh aura keanggunan Alhambra Granada yang kita berdua kagumi.”

Rindu merupa pualam, bayang dalam hening
Jarak menyeka dahaga
Mengendapkan resah

---

Buat Mas Beben Jazz

Rumah Ortu, 29 April 2017

Sunday, April 9, 2017

Sembadra Arjuna dan Jalan Asmara

“Mau kemana Den?”, tanya Bagong sambil nyepit Samsoe sisa jatah tahlilan semalem.
Arjuna alias Janaka alias Kombangjali yang baru aja naruh sisir rambut mau gak mau harus menjawab,

“Keluar sebentar”. Diplomatis.

“Lha iya luarnya itu mana, apa luar negeri, apa luar angkasa. Soalnya nanti Nyi Rara Sembadra pasti tanya.” To the point.

“Yaudah soalnya kamu tanya. Ni aku mau ke Indomaret bentar beli rokok, ngisi angin, terus nanti pulang beli tensoplas buat bibirmu yang sok kritis itu. Paham ga?” Sarkastik tragis.

“Hummmm”, Bagong mecucu, “Ya sudah resiko ditanggung sendiri.”

Memang sudah menjadi kasus hari-hari ini, gerak-gerik Janaka yang mencurigakan mulai dari tampilannya yang selalu necis sampai rambut yang ga pernah kering dan sering keluar rumah terus. Rara Ireng yang tiap pagi siang sore tak jemu-jemu kampanye anti rokok sampai menjatah Bagong sebungkus sehari demi menjalankan tugas sebagai spionase. Si Kombangjali yang tampak lugu tapi diam-diam tak kalah taktik malah menjatah Bagong dua bungkus, untuk tutup mulut. Di sini jelas Bagong yang memegang kunci keuntungan atas dua pihak yang bersengketa, seperti makelar-makelar kasus. Memang repot kalau prinsip ‘wanipironan’ mulai menggeser prinsip-prinsip moral yang hari ini makin mahal, kalau masih ada stok.

Dan seperti biasanya datanglah Nyi Rara Ireng itu, timik-timik sambil menenteng tas merk Kremes.

“Bagong liat Mas Arjuna ga?”

Kremes adalah merk hasil adaptasi dari Hermes supaya lebih nglokal dan njawani. Sebagai aktivis perempuan, Rara Sembadra termasuk figur yang sama beraninya ketika melawan kuasa laki-laki atas perempuan dan kuasa merk-merk asing atas perempuan. Sebagai perempuan yang mandiri dalam ekonomi ia memegang teguh strategi bisnis Coco Chanel, if selling men fashion is profitable for you, womens double it. Ia mengeklaim kuasa dirinya atas Janaka dengan membuat perempuan-perempuan yang mendekati Suaminya itu minder ndlosor dan merasa teraniaya cukup dengan melihat purse-purse berkilau desainnya sendiri. Possessive tapi main e alus.

“Oh. Tadi keluar lagi beli tennnsoooplassssss”, saut Bagong melampiaskan njaremnya tadi. Meski hati njarem, tapi ia tetap harus profesional. Menjaga langganan.

“Sisiran rapi ga?”, Sembadra menukik.

“Ya… dibilang rapi bisa… ngga rapi bisa…”, ternyata Bagong juga seorang mancing mania.

“Plok”. Jatuh Surya sebungkus. “Nih rokok”. Bagong strike 12 poin.

“Jadi tuuu, tadi Den Arjuna pakai baju rapi sisiran rapi …blablabla casciscus…”, asap ngepul khajat kabul. Klasik memang.

Ternyata Arjuna lagi asik jadi Pendamping Desa yang sering keluar masuk ruang meeting ketemu lurah dan kadus-kadus. Arjuna merasa terpanggil mengawal dana 1,2 milyar dari pusat untuk tiap desa yang riskan disalahgunakan. Terlebih setelah ia tahu beberapa lurah dan kadus di daerahnya  kadang bingung apakah ndangdutan bisa dimasukkan dalam rangkaian kegiatan pembangunan desa dengan judul agenda “Peningkatan Motivasi Membangun Desa Dengan Ndangdutan”.

Di samping KPK dan BPK yang belum pernah masuk desa seperti ABRI, ia ingin menghabiskan masa 12 tahun pembuangannya setelah kalah main dadu pada pilpres lalu.

Di tengah rembug dengan para sesepuh desa, mendadak Rara Sembadra datang memarkir Corvette-nya. Mereka berdua kisruh sejenak -atau pura-pura kisruh biar mesra- lalu makan siang bersama di Warung Pecel Madiun di Jalan Asmar
a.

Tentang Gendruwo


 19 Mei 2014

Malam itu sebenarnya cerah, namun larut di tengah kampus yang sunyi membuat suasana menjadi sedikit mencekam. Aku dan Mas Ulin barusan menyelesaikan kuliah di reading room Fakultas Agama Islam. Pukul 10.30. Karena sama-sama pulang laju ke Ungaran, kami berdua segera meninggalkan ruangan. Kami sama-sama mafhum tentang masalah bus jika sudah selarut itu. Alamat. Bisa berjam-jam kami menunggu di emperan Kaligawe.

Barangkali Mas Ulin sedang getol-getolnya belajar bahasa Inggris waktu itu. Ia mengajak aku untuk komitmen berbicara bahasa Inggris dimana saja kami bertemu. Tentu itu juga hal positif buatku. Malam itu ada email yang harus kukirim segera. Terpaksa aku mencari spot wifi di tengah jalan kami dari FAI. Mas Ulin bersedia menunggu. Tentu sambil kami bercakap-cakap bahasa Inggris. Conversation. Meski ala kadarnya.

Ketika melewati kolam ikan di samping gedung Fakultas Kedokteran Gigi, ada bau sangit yang sangat menyengat. Padahal tidak ada angin, apalagi asap. Kami berdua sadar itu bau yang tidak lazim. Gelapnya lingkungan kampus dan rimbunnya pohon beringin kanan-kiri memperkuat persepsi asal muasal bau itu. Darimana lagi kalau bukan ulah jin iseng. Kami sekedar memperbincangkannya sambil lalu.

Karena harus membuka laptop aku perlu mencari tempat untuk duduk. Satu-satunya tempat duduk yang dekat dengan kami hanyalah dudukan buk semen di sebelah kanan. Tepat persis di bawah pohon beringin. Aku perlu memilih sinyal wifi dan menulis pengantar email sehingga membuatku sedikit fokus pada layar. Suasana hening sementara waktu, masih dengan bau sangit yang menyengat itu.

Seketika Mas Ulin memecah keheningan. Ia bilang baru saja melihat setan dengan jelas. Suasana tiba-tiba merinding. Konyolnya, dalam suasana yang agak gonor itu, kami sempat diskusi dulu apa harus segera pergi atau tidak.

Sampai di tempat menunggu bus, baru kami bercerita tentang sosok setan itu. Ketika aku asik dengan laptop. Mas Ulin melihat ke arah kanan. Ke arah pohon beringin di ujung halaman perpus. Tepat di bawah sana katanya telah berdiri sosok hitam tinggi besar. Setinggi pohon mangga di dekatnya. Kedua matanya merah menyala. Gendruwo! Hiiii.

Tapi yang membuatku terus mengingat kejadian itu bukan adanya sosok jin itu. Ada kejadian konyol lagi dari sikap Mas Ulin waktu itu yang masih sering bikin aku tertawa. Kocak bukan main.

Orang awam umumnya akan langsung kaget dan lari ketika melihat sosok setan menyeramkan. Tapi tidak dengan Mas Ulin. Mungkin karena ia sedang semangatnya belajar bahasa Inggris itu. Ketika gendruwo tersebut nongol di depan Mas Ulin, dengan santainya ia pandangi penuh khidmat. Katanya sekitar 20 detik.

Setelah puas aku baru diberi tahu. Dan masih sempat-sempatnya ia mempraktikkan bahasa Inggris conversation waktu melihat setan! Ia berkata,

“Mas Imam… (tak lupa dengan intonasi British)... Do you see gendruwo??”

Yi Sun Sin Muda

29 April 2014
Kalau kita pergi ke Seoul, di sana ada patung raksasa dari laksamana Yi Sun Sin yang berdiri di depan raja Sejong. Admiral Yi Sun Sin dikenal tak pernah kalah dalam bertempur. Korea kuno waktu itu berada di antara dua pengaruh kerajaan besar, yaitu Cina dan Jepang. Jika kondisi diplomatis baik, Korea mengirim upeti pada kekaisaran Cina. Jika sedang tidak, kadang terjadi invasi.

Di sisi lain, seringkali pasukan-pasukan jepang di bawah shogun Tokugawa Eiyasu menyerang. Setelah berhasil menyatukan Jepang paska perang Sekigahara (seingatku), Tokugawa berambisi menguasai Korea. Ia mengirim berpuluh-puluh kapal dalam beberapa invasinya. Namun sayang kapal-kapal itu tak pernah benar-benar berhasil mengalahkan armada laut Korea. Jenderal Yi Sun Sin lah yang menjadi laksamana angkatan lautnya.

Yang paling aku suka dari Yi Sun Sin adalah karakternya. Awalnya ia seorang katrok yang idealis. Kurasa benar-benar katrok ndeso blokosuto pwooooll. Hehehe. Seingatku ia lahir dari keluarga Budha yang taat. Orang tuanya mengirimnya untuk belajar konfusionisme. Yang kita tahu di masa itu didikan moral kongfuse terkenal amat kuat. Itu kurasa yang membuatnya jadi idealis. Uniknya, Yi Sun Sin ini belajar konfisionisme terlalu lama. Tidak serius meniti karir sejak muda seperti anak-anak jaman sekarang. Kerjaannya cuma bantuin ibunya sambil belajar gitu-gitu doang sampai umur 30an lebih. Jadi bayangkan aja kalau di kita itu dia seorang santri ndeso yang sarungan terus kesana kemari, kerjaannya nyantriii mulu.

Baru setelah umur 30 sekian tahun ia pingin masuk tentara kerajaan. Ia mendaftar dan diterima. Karir ketentaraan ia jalani. Pangkatnya nggak rendah-rendah amat, tapi juga nggak tinggi-tinggi amat. Katakanlah, sersan. Waktu dia jadi sersan, semua teman dan pimpinannya mengajak dia untuk melanggar aturan. Tidak dijelaskan detail aturan apa yang dilanggar, tapi bayangkan aja waktu itu Yi Sun Sin diajak korupsi menggelapkan anggaran.

Nah hebatnya, si Yi Sun Sin ini benar-benar nggak mau ikut-ikutan. Mungkin karena idealisme moralnya yang kuat dan didorong dengan tingkat kekatrok-annya yang tinggi itu ia berani ngeyel. Ngeyel karena benar. Bahkan ia berani melawan atasannya dan akhirnya sampai berkelahi dengan teman-temannya. Karena idealismenya itu ia sampai diturunkan pangkat jadi tentara kacung bawahan selama beberapa tahun. Barangkali mungkin sosoknya hampir dilupakan karena terlampau jadi orang nggak penting. Yah, begitulah. Apes lah dia. Tapi waktu ia terkena kasus itu, ada salah seorang kawan lamanya yang sudah jadi kolonel. Ia tahu bagaimana watak Yi Sun Sin dan apa yang sebenarnya terjadi. Kolonel itu juga tahu skill leadership Yi Sun Sin yang memang mumpuni. Alhasil ketika kolonel itu jadi jenderal penting, Yi Sun Sin diangkat kembali dari lapisan kerak bumi. Ya semirip waktu Gus Dur mengangkat Mahfud MD dari sekedar dosen terus jadi Menhan kala itu. Akhirnya Yi Sun Sin berhasil memimpin armada laut Korea bertempur melawan Jepang dengan kemenangan-kemenangan yang kisahnya benar-benar layak dicatat tinta emas sejarah.

Wage dan Kliwon di Kampung Drakula

29 April 2014 


Malam terasa mistis. Seperti malam-malam yang ada di film Van Helsing, seorang pemburu drakula. Si Wage dan Kliwon tersesat di sebuah kampung yang tak begitu banyak penghuninya. Mereka sedang berada di Rumania, Eropa, negeri yang konon merupakan tempat asal muasal para drakula. Mereka harusnya sudah berada di kampung halamannya di Jawa. Tapi karena ditipu calo mereka terdampar di tempat itu. Panjang ceritanya.

Kabut lambat laun makin tebal dibarengi hawa dingin yang menusuk tulang. Mobil van milik calo telah menggondol semua barang bawaan setelah meninggalkan mereka di situ. Wage dan Kliwon terus berjalan menyusuri aspal sepi. Kanan kirinya sawah. Di kejauhan tampak satu dua cahaya rumah. Jalan kecil berkelak-kelok disinari cahaya terang bulan purnama. Tak ada angin yang berhembus. Meski berkabut udaranya terasa sejuk. Mereka terus menyusuri jalan sampai di sebuah gapura yang terbuat dari batu disusun-susun. Di atasnya terbentang papan kayu yang disinari sebuah lampu jalan usang bertuliskan “Drakula Village” alias “Kampung Drakula”.

“Walahhh. Hahaha. Kayak di film aja Ge ada kampung drakula segala. Ada-ada aja orang sini”, Kliwon tertawa.

Letupan tawa Wage sedikit mendengus, tersengal karena tertahan. Mereka berdua melanjutkan langkah ditemani suara dua pasang sepatu dan binatang-binatang malam. Tembok batu-batu setinggi pinggang tersusun rapi di badan jalan. Di perempatan jalan tampak tenda dengan redup lampu minyak. Seperti warung makanan. Dua atau tiga orang terbayang duduk di bangku-bangku panjang yang mengelilingi meja besar. Wage dan Kliwon berjalan menghampiri tenda itu.

“Kok mirip warung angkringan aja ya Won…” komentar Wage.
Di depan tenda terpaku papan pada sebuah tiang kayu setinggi kepala. Karena penasaran Kliwon mendekati papan itu. Ada tulisan remang-remang, tidak jelas karena gelap. Ia mengambil handphone lalu menyinari papan itu. Kini tulisan tampak jelas dengan huruf kapital,

“SEGO KUCING MAS BAMBANG”

Kliwon yang kaget berteriak lantang,

“CUWONGGROSSEEEEEEEEE!!!! Ning kampung Eropa ngene kok ono kucingan?? TENAN PO RA IKI???!!”

Karena suaranya yang terlampau kencang, seorang pria keluar dari balik tenda angringan. Sweaternya hitam dilapisi dengan rompi dan jaket kulit. Ia memakai sepatu boots dan topi koboi. Semua serba hitam.

“Ayem sori ayem sori”, kata Kliwon segera meminta maaf. Ia agak ngeri dengan tatapan mata pria itu meski akhirnya melembut ramah.

“Njengengan piyantun Jawi nopo?”, kata pria itu.

“He? Dalem”, Kliwon makin mlongo. Mana ada orang Eropa bicara bahasa krama. “He?”

“Sampean wong Jowo Mas?”

“Lhahh. Kok saged boso Jawi??”, sahut Kliwon yang masih mlongo. Wage menimpali, “Geh Pak”.

“Kulo Abraham. Lengkap e Abraham Van Helsing”, jawab pria itu sambil tertawa kecil.

Mereka berdua diajak masuk ke kucingan itu. Di dalamnya ada dua orang pria lain yang berbicara dengan bahasa lokal setempat. Di depan mereka ada beberapa botol bir.

Kliwon dan Wage berkenalan lebih lanjut dengan Van Helsing. Mereka menceritakan apa yang telah terjadi termasuk sampai bagaimana calo itu membuat mereka terdampar di Rumania. Van Helsing juga banyak bercerita tentang dirinya. Ia adalah pemegang titel doktor di bidang sejarah yang entah bagaimana ceritanya bisa sampai jadi penjual nasi kucing.

Ia pernah tinggal di berbagai negara di dunia. Waktu di Indonesia ia ikut dengan rombongan penelitian sejarah sambil melakukan studi S2 di Jogja. Ia juga sempat bergabung dengan Clifford Geertz di penelitian Religion of Java Kutoarjo meski akhirnya berpisah karena suatu hal.

“Waktu di Jogja orang lebih suka memanggil aku Abraham. Tapi karena agak sulit, teman-teman di kucingan sering seenaknya memberi julukan Bambang. Ya sudah buatku nggak masalah. Sego Kucing Mas Bambang ini juga aku tiru dari angkringan-angkringan di Jogja.”

Wage dan Kliwon menyimak dengan antusias setiap penjelasan Bambang Van Helsing.

“Nah, sekarang pada mau pesan apa?”

“Susu jahe anget wonten mboten?” jawab Wage.

“Wonten”

“Kulo kofimix mawon”, sahut Kliwon.

Malam itu memberi ruang bagi dua orang yang sedang tersesat tersebut untuk mendengarkan berbagai kisah menarik dari Van Helsing. Ia pernah berburu drakula, berlayar ke Segitiga Bermuda, dan juga menunggangi gajah afrika. Kabut yang agak tebal membuat minuman panas mereka terasa lebih nikmat. Suasana hangat di bangku kucingan mengubah malam itu menjadi awal mula petualangan mereka.

-tamat-

Sebenarnya ini adalah versi homesick-ku pada kucingan di kampung halaman. Dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di negeri ini aku merasa ini petualangan. Kawanku dari Thailand mengatakan besok kau akan mengerti rasa tinggal di negeri asing, kalau sudah cukup lama di sini. Kakang guruku yang pernah ke Spanyol katanya juga baru merindukan kampung halamannya setelah enam bulan di sana. Ada juga kawan lain yang bilang, tinggal di luar negeri itu enaknya cuma beberapa bulan saja untuk jalan-jalan, kalau untuk menetap nggak enak. Kurasa sedikit ada benarnya juga. Kadang terasa ada masa-masa menyenangkan di sini, tapi ada juga sedikit masa-masa survival. Meski dari akar katanya survival itu perjuangan di antara hidup dan mati, tapi selama tidak benar-benar bikin mati, setiap keadaan bisa dibikin enjoy aja LA gi. Hehehe.

Selain itu dulu di dekat rumahku ada kucingan tempat aku nongkrong kalau lagi suntuk. Karena kadang aku keluar jam 11 atau jam 12, nggak ada teman yang bisa diajak nongkrong bareng. Alhasil di kucingan itu aku cuma berdua dengan bakulnya ditemani lampu bolam redup yang ditutupi kertas koran. Kadang juga ada mbah-mbah yang mampir ngopi sendirian di situ sambil ngrokok. Posisi kucingan itu di pinggir sawah di tepian kampung. Kadang ada satu dua motor yang lewat meski sepi. Karena sendiri kadang aku membayangkan bagaimana kalau lokasi tongkrongan kucingan ini dipindahkan di tempat yang sedikit mistis dan berkabut. Seperti di Transylvania, Rumania, tempat Van Helsing berburu drakula.

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...