Saturday, January 3, 2015

Kala Raden Arjuna Masih Jomblo

Ketika membaca kisah-kisah wayang, saya jadi bertanya-tanya.  dalam berbagai cerita para punakawan selalu ikut Raden Arjuna daripada para pandhawa lainnya. Mengapa jarang sekali ada cerita, Nakula didampingi punakawan, Bima didampingi punakwan, atau lainnya. Lebih sering, “Arjuna berangkat didampingi para punakawan”, “Arjuna bertapa ditemani punakawan”, dan semacamnya.

Kita tahu Arjuna adalah penengah pandhawa yang terkenal paling ganteng. Kesaktiannya juga pilih tanding seiring dengan kecintaannya pada ilmu yang membuatnya gemar mengunjungi para begawan. Terlebih lika-liku kehidupannya dengan para gadis baik mulai dari yang blasteran, kuning langsat pribumi, sampai para bidadari. Dengan berbagai daya pikatnya yang misterius itu sampai-sampai Arjuna dijuluki “lelananging jagad”. Tidak ada perempuan yang tak suka kalau bertemu dengannya.

Tentu ada berbagai macam jawaban di luar sana mengapa punakawan lebih sering bersama Arjuna. Tapi menilik karakter para tokoh wayang yang ada, hal itu ada kaitannya dengan jiwa playboy Arjuna dan peran punakawan. Punakawan ini tidak kita temui karakternya di kitab asli Ramayana dan Mahabbarata dari India. Mereka adalah karakter yang diciptakan oleh sebagian pujangga jawa dengan tambahan dari para wali dan sultan-sultan jawa.

Punakawan adalah para abdi yang gemar bercanda, meski sebenarnya ada kebijaksanaan tertentu yang dibungkus oleh humor yang sedemikian cair dan menyenangkan. Jika ada usulan yang perlu disampaikan, maka Bagong akan berbicara dengan polos dan simpel. Malah Bagong jadi amat lucu dan tampak bodoh karena kepolosannya itu. Gareng akan langsung mengkritisi jika menurutnya ada yang tidak beres dengan gaya bicaranya yang agak sinis karena terlalu khawatir. Ketika perbincangan menjadi terlalu serius maka Petruk akan berkelakar sekenanya mencairkan suasana. Bukan semata-mata memecah kebekuan, tetapi memang sudah jadi sifatnya tak suka dengan hal-hal yang terlalu serius. Hidup kadang sudah susah kenapa harus ditambah dengan obrolan susah, yang santai aja lah. Begitu menurutnya. Semua kelakar guyonan Gareng, Petruk, dan Bagong itu dibawah ayoman kebijaksanaan Semar sebagai pembimbing mereka. Memberikan pelajaran bahwa ada batas-batas tertentu dalam guyonan agar tetap terukur dan tak menyinggung perasaan.

Bersama kebijaksanaan punakawan yang asik itulah Arjuna didewasakan menjalani lika-liku jalan perjuangan ksatrianya. Semar tahu dibalik lahirnya Arjuna dengan pembawaan wajah tampan, ada risiko tersendiri atasnya. Keindahan wajah bersifat memikat dan bisa menuai bahaya bagi yang tak bisa mengatasi resikonya. Perhatian para wanita lebih tertuju pada sosok Arjuna yang lebih tampan daripada saudara Pandhawa lainnya. Karenanya otomatis Arjuna harus memiliki daya tahan lebih terhadap godaan-godaan itu. Di situlah letak peran penting para Punakawan yang selalu menemani Arjuna untuk mengalihkan perhatiannya dari godaan-godaan yang ada. Barangkali jika tak didampingi Punakawan, intensitas kegalauan Arjuna menjadi teramat tinggi karena kesendiriannya. Di sisi lain Arjuna juga selalu mawas diri terus melawan sisi jiwa playboy-nya yang mungkin muncul dengan gemar bertapa.

Kisah Arjuna itu sedikit banyak menggambarkan kehidupan muda-mudi yang masih jomblo. Kita semua tahu manusia adalah makhluk sosial. Di samping ada kebutuhan fisik, ada juga kebutuhan psikologis yang tak dapat dipenuhi sendiri, seperti rasa ingin berbagi pikiran dan perasaan. Jika tak ada orang lain yang diajak berkomunikasi, jiwa manusia secara otomatis terus mencari celah komunikasi yang ada, mulai dari menggunakan media sosial sampai jika itu tak mungkin dilakukan, ia akan berbicara dengan dirinya sendiri. Intensitas komunikasi intrapersonalnya akan semakin tinggi. Di level ini lah terjadi kegalauan.

Punakawan dalam kisah Arjuna tersebut melambangkan pentingnya sahabat-sahabat baik bagi seseorang. Sahabat yang positif akan memperkecil munculnya pikiran-pikiran negative pada seseorang seperti galau, khawatir, atau amarah, di samping memperkuat resistensi ketertarikan terhadap godaan dari lawan jenis. Selain menciptakan persahabatan yang kondusif, jiwa juga perlu diperkuat dengan upaya-upaya untuk mengekang berbagai bentuk hawa nafsu.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...