Dulu aku sering menghabiskan waktu sore hari di perpustakaan kampus
untuk nongkrong. Bukan semata-mata karena mau baca buku. Tapi memang
perpus menjadi pilihan terbaik menghabiskan waktu menunggu asar sampai
maghrib. Bayangkan aja, tak ada pilihan lain, kalau menunggu di
fakultas, gedungnya dikunci pukul 5 sore. Kalau menunggu di masjid,
meski banyak pahalanya, tapi jujur
lantai masjid terlalu dingin untuk duduk lama-lama. Karena perpus kampus
sudah disulap sedemikian rupa seperti lobi hotel berbintang dengan
karpet-karpetnya yang nyaman, tentu itu jadi pilihan terbaik. Apalagi
kalau sore hari suasana hujan. Suasana senja jadi melankolis antara
dirimu dan buku ditemani rintik suara hujan.
Di antara buku-buku
sore hari itu, ada satu yang menarik. Judulnya Islamic Golden Rules.
Menurutku itu buku terbaik karangan guruku yang pernah kubaca. Bukunya
tidak tebal. Tipis. Dibagi menjadi 17 bab. Tidak banyak teori, kutipan,
dan data di dalamnya. Bahasanya renyah seperti kerupuk, mudah dicerna.
Tetapi jangan salah, tiap-tiap bab di dalamnya merupakan kristalisasi
filosofi belajar. Bayangkan jika Musashi seorang samurai legendaris
menuliskan seluruh falsafah bertarungnya di Buku Lima Cincin, dan Sun
Tzu dengan falsafah perangnya di buku Seni Berperang. Keduanya itu
merupakan kitab berumur ratusan tahun. Nah buku kecil Islamic Golden
Rules ini adalah pemadatan falsafah bagi seorang pelajar dalam nenuntut
ilmu.
Biasanya buku yang kuputuskan untuk dibaca akan kusikat
sampai halaman terakhir sesegera mungkin. Namun uniknya, kala itu tidak
demikian dengan buku ini. Aku merasa buku kecil itu terlalu berharga
untuk dihabiskan sekali baca. Sejak berurusan dengan buku itu, tiap sore
aku sengaja hanya membaca satu bab. Tiap selesai satu bab lalu keluar
dari perpus, aku seperti dapat tambahan ilmu. Seperti pendekar dunia
persilatan yang barusan menguasai ilmu baru dan keluar dari pertapaan.
Salah
satu bab menarik diantara 17 bab itu ialah dalam belajar tidak ada yang
instan di bumi ini. Kita seringkali tergesa-gesa hendak ingin menguasai
suatu ilmu atau wacana tertentu. Pinginnya sekali belajar langsung
pintar. Ingin tahu ini, tahu itu, banyak sekali, seperti lagu Doraemon.
Padahal sejatinya dalam belajar diperlukan proses. Malah tidak cukup
hanya sekedar proses, tetapi proses yang panjang. Tidak ada yang instant
di bumi ini. Kalau pun ada, itu hanya hal-hal yang sifatnya destruktif
atau merusak. Bayangkan saja istilah seperti “jalan pintas”, “mekar
sebelum waktunya”, “karbitan”, dan hal-hal lain yang mengkhianati
proses. Semuanya mewakili dampak negatif yang dibawanya. Termasuk dalam
hal makanan minuman yang bersifat instan dari berbagai macam fast food
sampai mie instan yang juga berdampak buruk bagi kesehatan.
Karena
kita hidup di dunia yang di-instan-kan sedemikian rupa, pikiran kita
kacau-balau. Ingin semuanya serba instan. Kita juga seringkali keliru
memasang satuan waktu bagi tiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita bikin
mie instan, perlu waktu 10 menit. Lalu kita mencuci, atau memasak,
inginnya juga selesai dalam hitungan menit. Padahal mungkin ukuran yang
tepat untuk mencuci dan memasak adalah jam. Selesai dalam sekian jam,
bukan sekian menit. Begitu juga dengan belajar. Ketika membaca buku,
inginnya khatam dalam hitungan jam. Padahal satuan hitungnya hari, atau
bahkan minggu. Ketika kita ingin menguasai wacana tertentu, inginnya
jadi pakar dalam beberapa hari. Padahal hitungannya bulan.
Untuk
menghasilkan sebuah karya atau menyelesaikan pekerjaan tertentu, ada
ukuran waktunya sendiri-sendiri. Ketidak-tepatan dalam menetapkan ukuran
waktu seringkali membuat seseorang tak dapat menyelesaikan
pekerjaannya. Dikiranya perkerjaan bisa selesai dengan cepat seperti
membuat mie instan, padahal butuh ukuran waktu tertentu. Akhirnya tenaga
mentalnya habis dan pekerjaannya terbengkalai. Dengan memberi ukuran
waktu yang tepat, kita bisa lebih sabar sampai di garis akhir sambil
menikmati proses yang harus ditempuh.
No comments:
Post a Comment