Saturday, January 3, 2015

Disiplin Seorang Cak Nun

Peradaban dihias di waktu senggang. Beberapa karya-karya indah lahir bukan karena tuntutan pekerjaan tapi dari gairahnya, antusiasme, atau lebih tepatnya, passion. Salah satu contohnya ialah novel pertama Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta yang telah membuat mainstream arus baru sastra dan sinema Indonesia bernafas Islami.

Awalnya Ayat-Ayat Cinta dimaksudkan sebagai sebuah cerpen. Kang Abik yang baru saja pulang dari Mesir waktu itu dan belum punya pekerjaan tetap memanfaatkan pemberian yang diperolehnya untuk mengukir karya. Pemberian itu juga sering kita peroleh, namanya waktu luang.

Jawaban atas pertanyaan siapa diri kita akan didapat dari karya kita. Kita dinilai dari karya yang telah kita ukir. Seberapa banyak pun sesumbar, klaim, dan statement yang kita lontarkan tak akan banyak memberi arti. Jadi bisa dikatakan ketika Descartes menelurkan thesis fenomenal Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada; dari makna cogito ergo sum saja belum bisa dikatakan manusia itu ada karena di dalam jiwa manusia ada berbagai unsur selain dimensi fisik. Namun karena Descartes mewujudkan thesis itu menjadi sebuah karya filsafat, barulah namanya menjadi ada lantaran karyanya itu, hingga kita kenal kini. Karya, menjadi bukti paling kuat akan eksistensi kita di dunia. Aku berkarya maka aku ada.

Dalam perjumpaanku dengan Cak Nun di musim dingin yang lalu, sedikit banyak ia memberi nasihat padaku tentang pengalamannya di masa muda. Perjalanan Cak Nun hingga ke titik ini sampai dirinya kini dikenal sebagai salah satu budayawan Indonesia sebenarnya bukan hal yang simpel seperti ketika ia dengan entengnya membuat lelucon di atas panggung. Sedikit banyak ia telah menempuh jalan yang “kebetulan” tak semua kawan-kawan seperjuangannya yang sama-sama sastrawan dan intelektual muda bisa melakoni.

Ia bercerita, yang membedakan dirinya dengan kawan-kawannya sejak muda hingga ke titik ini adalah satu, disiplin. Entah jam berapa pun selesai begadang, mau jam 1, 2, atau sampai subuh pun; jika sudah jam 7 pagi dirinya duduk di depan komputer dan mengetik. Entah ada yang akan ditulis atau tidak yang jelas ia menulis. Kedisiplinan itu yang terus ia latih dalam diri meski orang-orang sering menilainya sebagai sosok yang suka cengengesan. Disiplin.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...