Peradaban
dihias di waktu senggang. Beberapa karya-karya indah lahir bukan karena
tuntutan pekerjaan tapi dari gairahnya, antusiasme, atau lebih
tepatnya, passion. Salah satu contohnya ialah novel pertama Kang Abik,
Ayat-Ayat Cinta yang telah membuat mainstream arus baru sastra dan
sinema Indonesia bernafas Islami.
Awalnya Ayat-Ayat Cinta dimaksudkan
sebagai sebuah cerpen. Kang Abik yang baru saja pulang dari Mesir waktu
itu dan belum punya pekerjaan tetap memanfaatkan pemberian yang
diperolehnya untuk mengukir karya. Pemberian itu juga sering kita
peroleh, namanya waktu luang.
Jawaban atas pertanyaan siapa diri
kita akan didapat dari karya kita. Kita dinilai dari karya yang telah
kita ukir. Seberapa banyak pun sesumbar, klaim, dan statement yang kita
lontarkan tak akan banyak memberi arti. Jadi bisa dikatakan ketika
Descartes menelurkan thesis fenomenal Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka
aku ada; dari makna cogito ergo sum saja belum bisa dikatakan manusia
itu ada karena di dalam jiwa manusia ada berbagai unsur selain dimensi
fisik. Namun karena Descartes mewujudkan thesis itu menjadi sebuah karya
filsafat, barulah namanya menjadi ada lantaran karyanya itu, hingga
kita kenal kini. Karya, menjadi bukti paling kuat akan eksistensi kita
di dunia. Aku berkarya maka aku ada.
Dalam perjumpaanku dengan
Cak Nun di musim dingin yang lalu, sedikit banyak ia memberi nasihat
padaku tentang pengalamannya di masa muda. Perjalanan Cak Nun hingga ke
titik ini sampai dirinya kini dikenal sebagai salah satu budayawan
Indonesia sebenarnya bukan hal yang simpel seperti ketika ia dengan
entengnya membuat lelucon di atas panggung. Sedikit banyak ia telah
menempuh jalan yang “kebetulan” tak semua kawan-kawan seperjuangannya
yang sama-sama sastrawan dan intelektual muda bisa melakoni.
Ia
bercerita, yang membedakan dirinya dengan kawan-kawannya sejak muda
hingga ke titik ini adalah satu, disiplin. Entah jam berapa pun selesai
begadang, mau jam 1, 2, atau sampai subuh pun; jika sudah jam 7 pagi
dirinya duduk di depan komputer dan mengetik. Entah ada yang akan
ditulis atau tidak yang jelas ia menulis. Kedisiplinan itu yang terus ia
latih dalam diri meski orang-orang sering menilainya sebagai sosok yang
suka cengengesan. Disiplin.
No comments:
Post a Comment