Wednesday, December 31, 2014

Prambanan dan Kenangan

Prambanan kalau dilihat dari kacamata kita sebagai orang “jaman sekarang” mungkin hanya sekedar sebuah candi dan tempat wisata. Ia candi di sebelah selatan Gunung Merapi tepatnya di daerah Klaten. Tapi coba kalau kita lihat Prambanan dengan mata dan perasaan orang-orang kita dulu yang tinggal di jaman Mataram Kuno, kita akan tahu dimana istimewanya Prambanan.

Candi Prambanan dibangun oleh Rakai Pikatan Panangkaran. Ia seorang raja dari wangsa Sanjaya yang tak kalah gagah dengan raja muda Hayam Wuruk. Berbeda dengan penguasa jaman sekarang yang berperut besar, orang-orang jaman dahulu menyatukan ilmu rasa dan pengetahuan dengan olah kanuragan. Bagi seorang raja, memiliki ilmu kanuragan yang tinggi adalah wajib. Tentu olah kanuragan itu otomatis membuat tubuh mereka gagah atletis dengan pikiran tajam yang tampak dari sorot matanya.

Di jaman itu belum ada gedung-gedung pencakar langit, tower-tower, atau jembatan-jembatan yang indah seperti tempat orang sekarang mengistirahatkan matanya sambil berpose dan berfoto ceria. Jaman sekarang ada Simpang Lima atau Bundaran HI tempat orang-orang nongkrong malam minggu. Kala itu belum ada. Bagi orang-orang jaman itu Prambanan lah yang menjadi bangunan paling megah tempat orang bisa santai memanjakan matanya yang lelah.

Di sebelah barat Prambanan membujur Sungai Opak. Sebagaimana kita tahu air ialah sumber kehidupan, kurasa banyak kampung-kampung yang bermukim bersama sungai itu, juga bersama Prambanan. Waktu itu juga belum ada istilah nongkrong Malam Minggu, tapi selalu ada orang-orang yang butuh hiburan dari masa ke masa.  Saat bulan bersinar purnama, malam menjadi benderang dan candi akan tampak semakin indah karena pantulan cahaya emasnya. Bersama keindahan itulah orang-orang sederhana di jaman Mataram Kuno “nongkrong malam minggu”, mungkin di bawah candi, atau sekedar di pelatarannya.

Juga kubayangkan, begitu juga yang dilakukan Rakai Pikatan. Sesekali dalam sebulan ia meninggalkan istana tempat ia mengatur pemerintahan lalu naik kereta kuda bersama permaisurinya. Ia berangkat ketika matahari sudah agak condong ke arah barat, menikmati purnama di pelataran Prambanan, namun sebelumnya mereka menikmati senja di Candi Plaosan.

Plaosan ialah sepasang candi kembar yang ia bangun untuk permaisurinya, Sri Pramodhawardani. Di sekelilingnya dihiasi lima puluh candi perwara kecil yang indah. Ada sebuah pohon rindang di dekat gerbang dengan bangku sederhana di bawahnya. Candi itu menghadap ke Barat, sehingga jika mereka berdua duduk di bangku itu memandanginya, sinar mentari tak membuat silau pandangan mereka namun membuat Plaosan tampak elok karena pantulannya. Rakai Pikatan membuatkan candi itu bukan karena seperti Syah Jehan yang mengenang kematian istrinya. Sebaliknya ia ingin mencipta senyum di wajah istrinya yang bahagia tiap saat mengenang candi itu. Karena dibalik kenangannya pada candi itu ia tahu ada seorang Rakai Pikatan yang begitu mencintainya.

Sebagaimana umumnya seorang pemimpin, Rakai Pikatan menurutku juga seorang yang mencintai keluhuran budi pekerti. Aku bayangkan betapa repot baginya untuk mencapai kesempurnaan budi pekerti. Di jamannya mungkin tak ada yang mengenalkan ajaran agama, membawakannnya buku-buku tasawuf, bahkan waktu itu belum ada Immanuel Kant yang menjelaskan tentang akal budi. Mau tak mau ia harus mempertajam batinnya untuk menyerap segala kebijaksanaan dari alam, dari manusia-manusia, atau dari kisah-kisah para pujangga yang tertulis dalam gulungan lontar. Karena  tentu pemimpin ialah teladan, dan baginya memiliki budi pekerti yang luhur ialah suatu keharusan.

Buatku Prambanan tak hanya mengingatkanku pada sosok Rakai Pikatan. Prambanan ialah satu fase perenungan tersendiri, di dalamnya ada kenangan, juga keanggunan. Sejauh ini di bayanganku hanya ada dua sosok yang melambangkan keanggunan. Pertama sosok Srinthil yang telah matang dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Pak Ahmad Tohari. Kedua ialah Sinta, permaisuri Ayodya yang menari di pelataran Prambanan malam itu, persis di bawah sinar rembulan.

Di mataku, Sinta yang menari di pelataran Prambanan waktu itu bukan hanya seorang perempuan ayu dengan rambut tergerai lurus panjang, yang gemulai tangannya selalu lembut dan anggun. Aku tahu benar bagaimana liku perjalanan kisah hidupnya. Ketegarannya tampak begitu jelas ketika ia dibuang di hutan Dandaka. Kesabarannya menunggu di bawah pohon Argasoka membuat Triyata keponakan Rahwana harus menemaninya karena tak sampai  hati. Juga betapa teguh dan setianya ia dalam puasa-puasanya ketika menghadapi iming-iming harta sekaligus godaan kedigdayaan Rahwana. Betapa menakjubkannya malam itu karena sosok Sinta dalam pikiranku, yang serba anggun dengan ketegaran keibuan khas yang dimiliki seorang wanita, dihadirkan secara nyata di depan mataku, ayunya, lembutnya, juga indahnya, yang itu semua tampak terlalu mempesona.

Selesai pentas tari semua penonton langsung berlari berebut foto bersama dengan para penarinya, dengan Rama, Rahwana, juga dengan Sinta. Tapi aku tidak. Aku menunggu sampai gamelan berhenti berbunyi dan lampu-lampu kembali dinyalakan, lalu meninggalkan bangku pentas. Entahlah aku sendiri juga tak yakin sebabnya. Mungkin aku agak malu untuk minta foto bersama. Mungkin karena terlalu panjang antriannya. Atau karena tanpa kusadari aku khawatir gambaranku yang begitu indah tentang Sinta ternodai oleh rasa kecewaku karena sosok Sinta yang kuajak foto tak sesempurna bayanganku. Ia ayu, aku tahu. Tapi aku juga tahu tak ada manusia yang sempurna. Malam itu, dari kejauhan aku lebih memilih menikmati Prambanan yang menyala seperti emas.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...