Ipung adalah judul sebuah novel karya Mas Prie GS yang menjadi salah satu buku berkesan buatku. Novel itu menceritakan seorang bocah SMA bernama Ipung yang berasal dari sebuah desa. Ia merantau dan ngekos di kota Semarang dan sekolahnya merupakan tempat murid-murid dari keluarga kelas elit yang selalu menguji percaya dirinya. Mungkin tulisan ini wujud kangenku karena waktu itu aku cuma diberi waktu tiga hari untuk memegang novel pinjaman itu yang ternyata dipinjam temanku dari temannya. Mengenaskan.

Ipung itu…

Gimana ya. Sosoknya terlalu unik untuk umuran anak SMA di jaman ini. Kalau memang ada pastilah ia dibesarkan jauh dari perangkat kultural jaman ini yang serba dangkal. Karakternya terlalu kuat, demikian pula influence alias pengaruhnya. Kang Abik Habiburrahman el Shirazy diminta memberikan prolog novel, endorsement sitilah gaulnya. Beliau aja sampai mewanti-wanti begini, karena saking kuatnya influence Ipung, ini bukan novel Islami, sekali lagi ini bukan novel Islami. Kurasa Mas Prie GS ketawa geli baca prolog itu. Karena Kang Abik orang penting wajar reviewnya dipajang di novel itu. Sedangkan aku orang gak penting jadi reviewku cukup di sini aja. Hheuheu.

Ipung seorang bocah yang punya nyali. Jelas itu. Biar saja dia kusebut bocah, masih SMA. Masalah nyali dia tipikal Antonio Banderas di film Desperado, bandit jalanan gondrong menawan yang bawa gitar kesana kemari. Tenang dan pendiam tak suka cari gara-gara, tapi kalau gara-gara yang cari selangkah pun dia gak pergi. Pernah seorang bocah yang paling ditakuti di sekolah merusak sepeda yang menjadi satu-satunya jalan ia ngirit transport. Tanpa ba bi bu ia sikat bocah itu segerombolannya sendirian. Ambil kayu lalu dengan cepat ia pukuli bos nya sampai bilang ampun dan otomatis yang lain cuma diam. Taktis.

Sisi lain yang menonjol dari Ipung adalah ia bocah yang karismatik. Dan kita tahu selagak apa pun seseorang yang namanya karisma tak bisa dibeli. Ia murni hasil chemistry misterius dalam diri seseorang. Ipung itu tipikal orang dengan EQ tinggi. Orang dengan IQ tinggi bisa menarik makna dan simpulan dari deretan angka dan kata-kata. Tapi orang dengan EQ tinggi bisa menarik makna dari gerak-gerik, gelagat, dan roman muka orang, menarik simpulan lalu merespon secara tepat, dan itu jauh lebih susah. Itu sebabnya Daniel Goleman bilang IQ hanya berperang 20% dalam kesuksesan seseorang, 80%-nya EQ.

Di sisi karismatik Ipung ini sebenarnya aku agak curiga darimana ia memperolehnya. Apa mungkin karena ia yatim sejak kecil sehingga itu cuma efek dari sekian persen beban ekonomi keluarga tersangga di pundaknya. Kenapa sih kok harus detail begini? Karena biar kita tak lupa ada jenis kepo secara substansial yang disebut kritis, dan itu yang membuat pikiran kita tetap tajam dan fundamental. Dari pengalamanku bergaul kesana-sini sikap-sikap karismatik seringkali dicopy dari sosok-sosok teladan terdekat. Kawan-kawanku yang karismatik asli kebanyakan kalau ayahnya nggak seorang Kyai ya biasanya Lurah. Memang demikian, aneh tapi nyata. Cara ayahnya bersikap dari hari ke hari dicontoh oleh anak-anaknya sejak kecil. Ada satu dua kawanku yang gak pernah cerita asal-usulnya, tapi dari ilmu n sikap-sikapnya udah jelas dia seorang Gus. Hheuheu.

Uniknya lagi Ipung bukan tipikal karismatik yang dingin, pendiam seperti tiang listrik di pinggir jalan. Ia tetap manusia normal yang berbicara dan sesekali teramat asik. Pernah setelah seorang guru yang terkenal killer menjelaskan panjang lebar di kelas. Setelah itu sesi tanya jawab dibuka. Ipung segera tunjuk jari sambil berdiri. Setelah dipersilakan ternyata ia mau ijin ke belakang. Otomatis seisi kelas tertawa ngakak selepas-lepasnya setelah suasana tegang sekian jam. Guru yang remuk redam derajat killernya langsung melakukan serangan balik, kenapa gak daritadi. Sanggah Ipung, tadi masih serius menjelaskan Pak. Hheuheu. Gaya Ipung ini perpaduan antara nyali, seni, dan logika sekaligus solidaritas tingkat tinggi. Katanya ia tak suka dengan suasana yang terlalu tegang di kelas akibat semua murid yang takut berjam-jam pada guru killer. Harus ada yang melawan ketakutan itu, tapi dengan cara yang unik.

Ya begitulah sekelumit ingatanku tentang Ipung. Sosok unik yang makin langka sehingga eksistensinya sesekali jadi inspirasi. O ya, di cerita itu waktu lebaran tiba sekolah Ipung liburan. Ia pulang ke kampung halaman untuk ketemu ibunya. Dan tahu apa yang terjadi? Paulin, seorang primadona blasteran di sekolah kabur dari liburan ke Singapura dengan keluarganya untuk bisa shalat Ied bareng Ipung. Tapi urusan mereka berdua sengaja tak kujelaskan. Hheuheu.