Nah lalu mulailah esok paginya ia meletakkan kotak es krim di atas
jok motor. Entah apa sekarang tunggangannya masih Jupiter merah itu atau
tidak karena sekarang dia udah resmi seorang PNS. Untuk ukuran lulusan
sarjana dia termasuk cemerlang karena bisa menyisihkan ratusan
kompetitor dalam CPNS sekian tahun lalu. Tapi yang jelas saat itu ia
jadi mahasiswa semester satu yang merangkap tukang es krim keliling. Ini
kisah nyata karena kita dulu satu kamar kos dan minum pakai gelas yang sama dari potongan botol aqua.
Sekitar jam sepuluh pagi dia keliling di beberapa perumahan sambil
membayangkan ada satu dua orang yang beli. Hasilnya, nihil. Karena masih
pemula ia tak tahu harus nongkrong dimana. Lalu selepas siang anak-anak
SMP 3 Semarang bubaran dan logis itu pangsa pasar menjanjikan. Ia
nongkrong di pinggir kali. Entah masalah spotnya atau pose nongkrongnya
yang keliru, setelah ditunggu-tunggu tak kunjung ada pembeli datang.
Sambil duduk di atas motor ia menyandarkan kepala pada stang. Mungkin
karena sudah tak lagi bisa membedakan antara sabar dan putus asa. Lalu
ia tertidur, sampai seorang ibu yang anaknya merengek minta es krim
membangunkannya,
“Mas, jualan gak? Kok tidur?”
Ia kaget sambil memandangi pembeli pertamanya dengan rasa syukur.
Alhamdulillah, katanya dalam hati. Tapi anehnya ia mendadak grogi.
Betapa tidak? Pembeli pertama setelah sekian jam berkeliling hampir
putus asa. Sampai sendok es krim ia pegang sambil gemetaran.
Alhasil, selepas asar ia baru kembali ke kos-an lalu cerita panjang
lebar tentang pengalamannya seharian. Bergairah. Ramah. Dengan gaya
pringas-pringis seperti biasanya. Ia juga memberitahukan aku jumlah
omsetnya hasil berkeliling seharian dengan kotak es krimnya:
Rp1000, dari penjualan satu buah es krim.
No comments:
Post a Comment