Wednesday, December 31, 2014

Sebait Asa Setangkai Es Krim

Nah lalu mulailah esok paginya ia meletakkan kotak es krim di atas jok motor. Entah apa sekarang tunggangannya masih Jupiter merah itu atau tidak karena sekarang dia udah resmi seorang PNS. Untuk ukuran lulusan sarjana dia termasuk cemerlang karena bisa menyisihkan ratusan kompetitor dalam CPNS sekian tahun lalu. Tapi yang jelas saat itu ia jadi mahasiswa semester satu yang merangkap tukang es krim keliling. Ini kisah nyata karena kita dulu satu kamar kos dan minum pakai gelas yang sama dari potongan botol aqua.

Sekitar jam sepuluh pagi dia keliling di beberapa perumahan sambil membayangkan ada satu dua orang yang beli. Hasilnya, nihil. Karena masih pemula ia tak tahu harus nongkrong dimana. Lalu selepas siang anak-anak SMP 3 Semarang bubaran dan logis itu pangsa pasar menjanjikan. Ia nongkrong di pinggir kali. Entah masalah spotnya atau pose nongkrongnya yang keliru, setelah ditunggu-tunggu tak kunjung ada pembeli datang. Sambil duduk di atas motor ia menyandarkan kepala pada stang. Mungkin karena sudah tak lagi bisa membedakan antara sabar dan putus asa. Lalu ia tertidur, sampai seorang ibu yang anaknya merengek minta es krim membangunkannya,

“Mas, jualan gak? Kok tidur?”

Ia kaget sambil memandangi pembeli pertamanya dengan rasa syukur. Alhamdulillah, katanya dalam hati. Tapi anehnya ia mendadak grogi. Betapa tidak? Pembeli pertama setelah sekian jam berkeliling hampir putus asa. Sampai sendok es krim ia pegang sambil gemetaran.
Alhasil, selepas asar ia baru kembali ke kos-an lalu cerita panjang lebar tentang pengalamannya seharian. Bergairah. Ramah. Dengan gaya pringas-pringis seperti biasanya. Ia juga memberitahukan aku jumlah omsetnya hasil berkeliling seharian dengan kotak es krimnya:
Rp1000, dari penjualan satu buah es krim.

No comments:

Post a Comment

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...