Saturday, January 3, 2015

Tak Seperti Mie Instan

Dulu aku sering menghabiskan waktu sore hari di perpustakaan kampus untuk nongkrong. Bukan semata-mata karena mau baca buku. Tapi memang perpus menjadi pilihan terbaik menghabiskan waktu menunggu asar sampai maghrib. Bayangkan aja, tak ada pilihan lain, kalau menunggu di fakultas, gedungnya dikunci pukul 5 sore. Kalau menunggu di masjid, meski banyak pahalanya, tapi jujur lantai masjid terlalu dingin untuk duduk lama-lama. Karena perpus kampus sudah disulap sedemikian rupa seperti lobi hotel berbintang dengan karpet-karpetnya yang nyaman, tentu itu jadi pilihan terbaik. Apalagi kalau sore hari suasana hujan. Suasana senja jadi melankolis antara dirimu dan buku ditemani rintik suara hujan.

Di antara buku-buku sore hari itu, ada satu yang menarik. Judulnya Islamic Golden Rules. Menurutku itu buku terbaik karangan guruku yang pernah kubaca. Bukunya tidak tebal. Tipis. Dibagi menjadi 17 bab. Tidak banyak teori, kutipan, dan data di dalamnya. Bahasanya renyah seperti kerupuk, mudah dicerna. Tetapi jangan salah, tiap-tiap bab di dalamnya merupakan kristalisasi filosofi belajar. Bayangkan jika Musashi seorang samurai legendaris menuliskan seluruh falsafah bertarungnya di Buku Lima Cincin, dan Sun Tzu dengan falsafah perangnya di buku Seni Berperang. Keduanya itu merupakan kitab berumur ratusan tahun. Nah buku kecil Islamic Golden Rules ini adalah pemadatan falsafah bagi seorang pelajar dalam nenuntut ilmu.

Biasanya buku yang kuputuskan untuk dibaca akan kusikat sampai halaman terakhir sesegera mungkin. Namun uniknya, kala itu tidak demikian dengan buku ini. Aku merasa buku kecil itu terlalu berharga untuk dihabiskan sekali baca. Sejak berurusan dengan buku itu, tiap sore aku sengaja hanya membaca satu bab. Tiap selesai satu bab lalu keluar dari perpus, aku seperti dapat tambahan ilmu. Seperti pendekar dunia persilatan yang barusan menguasai ilmu baru dan keluar dari pertapaan.

Salah satu bab menarik diantara 17 bab itu ialah dalam belajar tidak ada yang instan di bumi ini. Kita seringkali tergesa-gesa hendak ingin menguasai suatu ilmu atau wacana tertentu. Pinginnya sekali belajar langsung pintar. Ingin tahu ini, tahu itu, banyak sekali, seperti lagu Doraemon. Padahal sejatinya dalam belajar diperlukan proses. Malah tidak cukup hanya sekedar proses, tetapi proses yang panjang. Tidak ada yang instant di bumi ini. Kalau pun ada, itu hanya hal-hal yang sifatnya destruktif atau merusak. Bayangkan saja istilah seperti “jalan pintas”, “mekar sebelum waktunya”, “karbitan”, dan hal-hal lain yang mengkhianati proses. Semuanya mewakili dampak negatif yang dibawanya. Termasuk dalam hal makanan minuman yang bersifat instan dari berbagai macam fast food sampai mie instan yang juga berdampak buruk bagi kesehatan. 

Karena kita hidup di dunia yang di-instan-kan sedemikian rupa, pikiran kita kacau-balau. Ingin semuanya serba instan. Kita juga seringkali keliru memasang satuan waktu bagi tiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita bikin mie instan, perlu waktu 10 menit. Lalu kita mencuci, atau memasak, inginnya juga selesai dalam hitungan menit. Padahal mungkin ukuran yang tepat untuk mencuci dan memasak adalah jam. Selesai dalam sekian jam, bukan sekian menit. Begitu juga dengan belajar. Ketika membaca buku, inginnya khatam dalam hitungan jam. Padahal satuan hitungnya hari, atau bahkan minggu. Ketika kita ingin menguasai wacana tertentu, inginnya jadi pakar dalam beberapa hari. Padahal hitungannya bulan.

Untuk menghasilkan sebuah karya atau menyelesaikan pekerjaan tertentu,  ada ukuran waktunya sendiri-sendiri. Ketidak-tepatan dalam menetapkan ukuran waktu seringkali membuat seseorang tak dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dikiranya perkerjaan bisa selesai dengan cepat seperti membuat mie instan, padahal butuh ukuran waktu tertentu. Akhirnya tenaga mentalnya habis dan pekerjaannya terbengkalai. Dengan memberi ukuran waktu yang tepat, kita bisa lebih sabar sampai di garis akhir sambil menikmati proses yang harus ditempuh. 

Disiplin Seorang Cak Nun

Peradaban dihias di waktu senggang. Beberapa karya-karya indah lahir bukan karena tuntutan pekerjaan tapi dari gairahnya, antusiasme, atau lebih tepatnya, passion. Salah satu contohnya ialah novel pertama Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta yang telah membuat mainstream arus baru sastra dan sinema Indonesia bernafas Islami.

Awalnya Ayat-Ayat Cinta dimaksudkan sebagai sebuah cerpen. Kang Abik yang baru saja pulang dari Mesir waktu itu dan belum punya pekerjaan tetap memanfaatkan pemberian yang diperolehnya untuk mengukir karya. Pemberian itu juga sering kita peroleh, namanya waktu luang.

Jawaban atas pertanyaan siapa diri kita akan didapat dari karya kita. Kita dinilai dari karya yang telah kita ukir. Seberapa banyak pun sesumbar, klaim, dan statement yang kita lontarkan tak akan banyak memberi arti. Jadi bisa dikatakan ketika Descartes menelurkan thesis fenomenal Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada; dari makna cogito ergo sum saja belum bisa dikatakan manusia itu ada karena di dalam jiwa manusia ada berbagai unsur selain dimensi fisik. Namun karena Descartes mewujudkan thesis itu menjadi sebuah karya filsafat, barulah namanya menjadi ada lantaran karyanya itu, hingga kita kenal kini. Karya, menjadi bukti paling kuat akan eksistensi kita di dunia. Aku berkarya maka aku ada.

Dalam perjumpaanku dengan Cak Nun di musim dingin yang lalu, sedikit banyak ia memberi nasihat padaku tentang pengalamannya di masa muda. Perjalanan Cak Nun hingga ke titik ini sampai dirinya kini dikenal sebagai salah satu budayawan Indonesia sebenarnya bukan hal yang simpel seperti ketika ia dengan entengnya membuat lelucon di atas panggung. Sedikit banyak ia telah menempuh jalan yang “kebetulan” tak semua kawan-kawan seperjuangannya yang sama-sama sastrawan dan intelektual muda bisa melakoni.

Ia bercerita, yang membedakan dirinya dengan kawan-kawannya sejak muda hingga ke titik ini adalah satu, disiplin. Entah jam berapa pun selesai begadang, mau jam 1, 2, atau sampai subuh pun; jika sudah jam 7 pagi dirinya duduk di depan komputer dan mengetik. Entah ada yang akan ditulis atau tidak yang jelas ia menulis. Kedisiplinan itu yang terus ia latih dalam diri meski orang-orang sering menilainya sebagai sosok yang suka cengengesan. Disiplin.

Kala Raden Arjuna Masih Jomblo

Ketika membaca kisah-kisah wayang, saya jadi bertanya-tanya.  dalam berbagai cerita para punakawan selalu ikut Raden Arjuna daripada para pandhawa lainnya. Mengapa jarang sekali ada cerita, Nakula didampingi punakawan, Bima didampingi punakwan, atau lainnya. Lebih sering, “Arjuna berangkat didampingi para punakawan”, “Arjuna bertapa ditemani punakawan”, dan semacamnya.

Kita tahu Arjuna adalah penengah pandhawa yang terkenal paling ganteng. Kesaktiannya juga pilih tanding seiring dengan kecintaannya pada ilmu yang membuatnya gemar mengunjungi para begawan. Terlebih lika-liku kehidupannya dengan para gadis baik mulai dari yang blasteran, kuning langsat pribumi, sampai para bidadari. Dengan berbagai daya pikatnya yang misterius itu sampai-sampai Arjuna dijuluki “lelananging jagad”. Tidak ada perempuan yang tak suka kalau bertemu dengannya.

Tentu ada berbagai macam jawaban di luar sana mengapa punakawan lebih sering bersama Arjuna. Tapi menilik karakter para tokoh wayang yang ada, hal itu ada kaitannya dengan jiwa playboy Arjuna dan peran punakawan. Punakawan ini tidak kita temui karakternya di kitab asli Ramayana dan Mahabbarata dari India. Mereka adalah karakter yang diciptakan oleh sebagian pujangga jawa dengan tambahan dari para wali dan sultan-sultan jawa.

Punakawan adalah para abdi yang gemar bercanda, meski sebenarnya ada kebijaksanaan tertentu yang dibungkus oleh humor yang sedemikian cair dan menyenangkan. Jika ada usulan yang perlu disampaikan, maka Bagong akan berbicara dengan polos dan simpel. Malah Bagong jadi amat lucu dan tampak bodoh karena kepolosannya itu. Gareng akan langsung mengkritisi jika menurutnya ada yang tidak beres dengan gaya bicaranya yang agak sinis karena terlalu khawatir. Ketika perbincangan menjadi terlalu serius maka Petruk akan berkelakar sekenanya mencairkan suasana. Bukan semata-mata memecah kebekuan, tetapi memang sudah jadi sifatnya tak suka dengan hal-hal yang terlalu serius. Hidup kadang sudah susah kenapa harus ditambah dengan obrolan susah, yang santai aja lah. Begitu menurutnya. Semua kelakar guyonan Gareng, Petruk, dan Bagong itu dibawah ayoman kebijaksanaan Semar sebagai pembimbing mereka. Memberikan pelajaran bahwa ada batas-batas tertentu dalam guyonan agar tetap terukur dan tak menyinggung perasaan.

Bersama kebijaksanaan punakawan yang asik itulah Arjuna didewasakan menjalani lika-liku jalan perjuangan ksatrianya. Semar tahu dibalik lahirnya Arjuna dengan pembawaan wajah tampan, ada risiko tersendiri atasnya. Keindahan wajah bersifat memikat dan bisa menuai bahaya bagi yang tak bisa mengatasi resikonya. Perhatian para wanita lebih tertuju pada sosok Arjuna yang lebih tampan daripada saudara Pandhawa lainnya. Karenanya otomatis Arjuna harus memiliki daya tahan lebih terhadap godaan-godaan itu. Di situlah letak peran penting para Punakawan yang selalu menemani Arjuna untuk mengalihkan perhatiannya dari godaan-godaan yang ada. Barangkali jika tak didampingi Punakawan, intensitas kegalauan Arjuna menjadi teramat tinggi karena kesendiriannya. Di sisi lain Arjuna juga selalu mawas diri terus melawan sisi jiwa playboy-nya yang mungkin muncul dengan gemar bertapa.

Kisah Arjuna itu sedikit banyak menggambarkan kehidupan muda-mudi yang masih jomblo. Kita semua tahu manusia adalah makhluk sosial. Di samping ada kebutuhan fisik, ada juga kebutuhan psikologis yang tak dapat dipenuhi sendiri, seperti rasa ingin berbagi pikiran dan perasaan. Jika tak ada orang lain yang diajak berkomunikasi, jiwa manusia secara otomatis terus mencari celah komunikasi yang ada, mulai dari menggunakan media sosial sampai jika itu tak mungkin dilakukan, ia akan berbicara dengan dirinya sendiri. Intensitas komunikasi intrapersonalnya akan semakin tinggi. Di level ini lah terjadi kegalauan.

Punakawan dalam kisah Arjuna tersebut melambangkan pentingnya sahabat-sahabat baik bagi seseorang. Sahabat yang positif akan memperkecil munculnya pikiran-pikiran negative pada seseorang seperti galau, khawatir, atau amarah, di samping memperkuat resistensi ketertarikan terhadap godaan dari lawan jenis. Selain menciptakan persahabatan yang kondusif, jiwa juga perlu diperkuat dengan upaya-upaya untuk mengekang berbagai bentuk hawa nafsu.

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...