Thursday, March 6, 2025

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh

Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentang makam-makam wali di negeri Korea.

Ada beberapa pertimbangan yang dibutuhkan untuk menyampaikan tulisan ini:

1. Tingginya kewalian dan luasnya karomah dari wali yang ada, sehingga lokasi makam-makam wali tersebut sebenarnya dirahasiakan oleh bangsa Korea karena berhubungan dengan keamanan dan kesejahteraan perekonomian Negeri Korea. Sehingga lokasi makam wali tersebut hanya akan mereka beritahukan pada orang yang dianggap bisa dipercaya atau orang menyayangi bangsa dan negeri Korea. 

2. Karomah wali dari Negeri Korea tersebut, sebenarnya bagi bangsa Korea ialah seperti energi yang berupa Nur yang mereka kenali sebagai cahaya bulan. Sehingga dengan mengetahui adanya lokasi makam wali tersebut, diperlukan adanya tanggungjawab bahwa Nur dari karomah wali itu dibutuhkan oleh bangsa dan Negeri Korea. Karenanya bagi yang mengetahui, khususnya bagi kawan-kawan dari Ansor, PCINU Korea Selatan, yang menjaga garis dzuriyah dari Gus Dur dan menjaga makam-makam leluhur beliau, atau yang menekuni jaringan kewalian dari murid-murid Habib Luthfi hendaknya senantiasa bersholawat dan rutin membacakan tahlil sebagai bentuk tanggungjawab mengetahui makam-makam wali. 

3. Seperti dengan mengetahui makam seorang wali dari Negeri Korea, yakni Wali Ramadhan. Makam beliau saya ketahui dari informasi yang disampaikan oleh bangsa Korea, dan informasi tersebut tidak diberikan oleh sembarang orang, hanya pada kalangan terbatas seperti pada orang yang menekuni sejarah Islam dan sejarah Negeri Korea, juga memahami hangeul. Dari sini saya mengetahui bahwa karomah Wali Ramadhan amat penting bagi Bangsa Korea, dan beliau tergolong wali yang dijaga kehormatannya dan kerahasiannya. Sehingga bagi kawan-kawan PCINU Korea Selatan khususnya dari Ansor, supaya ikut menambahkan nama beliau dalam tahlil yakni Wali Romadhon fi Masjid Xi'an min Biladil Qouriyah atau Wali Romadhon yang ada di Masjid Xi'an dari Negeri Korea.

4. Berikut adalah lokasi makam beliau sebagaimana yang ada pada video:

https://youtu.be/8sS5MsuVL58?si=CCgR4sgDEVjqP505

Makam Wali Romadhon

5. Sebenarnya dengan mengetahui makam Wali Romadhon kita bisa mengetahui makam wali lain yang ada di Negeri Korea. Hal itu karena memang gelombang kewalian dari beliau terang dan jelas, dan juga dipantulkan oleh Bangsa Korea. Namun karena banyak pertimbangan yang dibutuhkan, hendaknya kita tidak sembrono dalam membuka suatu makam dan melihat respons dari dzuriyah atau keturunan dari shohibul maqom yang ada di Negeri Korea.

6. Biasanya pada wilayah makam-makam wali tersebut kita akan dibantu dalam berkomunikasi dan akan mendapat kawalan harimau-harimau putih (White Tiger). Untuk itu cukup berdoa sesuai apa yang dibutuhkan saja dan tidak membuat langkah-langkah yang mempersulit atau mendatangkan kesusahan bagi Negeri Korea.

Wallahul muwaffiq ila aqwamitthariq

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Imam Auliya

Pengurus PCINU Korsel 2014-2015

Monday, February 10, 2025

Korean Elderly and The Leper of Seo Jongju

There was a Korean poet, his name is Seo Jong Ju

I wonder how are his poems

They serve as energy in some Korean age

His writing is carved in one of my Hwando

Pretty, it was a letter, in poems, beautiful

The title is 문둥이 , the meaning is The Leper


In 2025, Korean people still respect that poem a lot

I wonder how to taking care of this

There was an issue about elderly in Korea, the Southern one

Somehow, there are not enough attention for them from the government


I believe they are some nobels from Baekje era

Or from some another dinasty before the current Joseon

I hope these decendants of Sejong do not lose their respect and nobility


I live in a village in Indonesia

The name is Beji

I got a Master degree from Korea

It is in economics


Thank you Seo Jong Ju for introducing me this letter

Korean people call it 시조 

It is very beautiful

How can you wrote me this letter

Beautiful poems


I hope your family and decendants live in happiness and prosperity


Imam


Beji, Ungaran, Feb 11th 2025

Wednesday, June 12, 2019

Ocean Cocktails


“Bagong, kamu juru bicaranya Mas, aku tanya, Mas dimana?”, samber Rara Ireng seperti letupan gorengan ikan.
 
“Mas-nya siapa dulu nih? Mas-nya Neng Banowati apa Neng . . . ”, Gareng yang menyahut.

“Siapa? Siapa sih? Siapa Gong?”

Bagong menjawab, “Siapa apanya?” 

Tipikal Bagong. Buffering

Sembadra menatap Gareng,
“Udah terbuka aja. Mas lagi dimana? Aku tahu kita di sini gara-gara ide si Petruk. Gayanya aja ngafe. Sampe di sini, nyatanya karaokean. Ini acaranya si Petruk kan? Ayo ngaku.”

“Wadaw", reaksi Gareng mati langkah. Gareng melongok ke arah Petruk, seakan ingin teriak minta tolong. Sayang di bawah lampu sorot, Petruk teguh menggenggam mikrofon.

Malam tak dapat ditolak. Corvette Sembadra membawa mereka berempat ke sebuah café. Sembadra, atau Rara Ireng ini, masih seperti yang lalu, suka menitipkan kangen kemana-mana. 

Di meja kopi, Bagong masih menyusun kalimat-kalimat jawab untuk malam ini. Demi Gareng yang barusan kena skak, demi Petruk yang telah lebih dulu angkat mikrofon, dan demi pembuktian seorang Bagong atas makna buffering.

Karenanya,
Bagong diam.
Untuk rangkaian sebuah jawaban.

Sembadra tenang merambat, memburu jawaban.
Pandangannya ditusukkan pada mata Bagong.
Tak ada nego bagi Bagong.

Bagong mecucu.
Profesional dalam gimmick negosiasi.

Sembadra meletakkan sebungkus rokok di atas meja
Tabung oksigen bagi Bagong
Oleh Sembadra, semua sudah diantisipasi

Di depan sebungkus rokok, Bagong mengernyit.
Dari Bagong, tak semudah itu membeli jawaban.

Sembadra tersenyum.

Bagong membuka bungkusan rokok.
Ia sulut sebatang.

“Non Sembadra, apalah arti tampak atau tidaknya seorang Danasmara”, kata-kata Don Bagong meluncur didorong tiupan asap tembakau. Ia berusaha menyilangkan kaki.

Melihat Bagong, Gareng menerapkan manajemen emosi.

Don Bagong meneruskan kalimat, 
“Danasmara tak terlihat setahun, Danasmara dirindui. Danasmara tak terlihat sehari, sama juga dirindui”, lanjut logis Bagong bersama asap, ditambah dengan alunan lambaian tangan.

Melihat Bagong lagi, Gareng mencoba sabar.

Perlahan-lahan akhirnya Bagong berhasil menyilangkan kakinya.

Gareng masih ingin bersabar. Meski tak sanggup lagi.

“Gong ini bukan syuting...”, kata Gareng.

Bagong menarik udara lewat sigaret. Lama. Lalu segulung kepulan tembakau ditiupkan.

“Kou lihat sendiri Reng, aku sedang berhadapan dengan sebuah persoalan”, Don Bagong masih menjawab.

Sembadra tak tega merasai keteguhan Bagong. Ia menyambung lirih, 

“Yaudah Gong. OK. Biar. Mas ga kelihatan sehari, aku kangen. Mas ga kelihatan setahun, aku juga kangen. OK. Kamu bener Gong. Tapi biar. Biar aku dipenjara kangen. Terlanjur terbiasa”. 

Jawaban Rara Ireng terdengar lunglai. Suaranya hampir pingsan. Orangnya yang masih ngopi.

Thursday, May 11, 2017

Halimun



Brussels di bulan Februari masih menyimpan angin-angin musim dingin yang dibiarkannya berlarian. Sembadra duduk di sebuah café dengan satu dua pengunjung yang menikmati kopi atau coklat hangat. Di hadapannya sebentang jendela membingkai perempatan jalan yang lengang, tempat ia melepas pandang dari kepenatan membaca jurnal. Sesekali ia mencorat-coretnya atau menyisipkan simpulan. Kepulan uap dari seduhan Americano bergoyang meliuk-liuk di sampingnya. Cangkir kopinya besar, hampir sebesar mangkuk. Isinya tinggal setengah. 

Musim dingin membuat kota menjadi lebih sepi, beku, dan kering. Namun salju menyelimutinya, membuatnya lupa dari sepi, dan dari kerinduannya pada hangat sinar matahari. Sekian judul jurnal telah membius kerinduan Sembadra pada Danasmara, meski tak seutuhnya. Kadang, bayang senyum dan gurauannya muncul pada butir-butir embun di kaca jendela, atau genangan air hujan tempat ia membuang lamunan. 

Di seberang jalan traffic light berkedip-kedip. Nyalanya kuning samar karena tertutup kabut. Dua orang duduk di halte menunggu bus yang tak kunjung datang. Kabut semakin tebal dan perlahan menjelma halimun yang seakan bergerak, menunggui jalan, dan mengamati dari kejauhan. Sebuah sosok muncul dari seberang jalan, berjalan ke arah jendela tempat Sembadra memandang. Postur tubuhnya tak asing, caranya melangkah terasa amat familiar. Sembadra dihinggapi penasaran yang sangat. Jantungnya berdebar-debar. Terus diamatinya sosok itu dari balik kaca sampai ia berhenti di bawah lampu jalan tepat di depannya, dan melemparkan senyum.

“Mas Arjuna!”

Sembadra melompat. Cangkir kopi tersenggol, hampir tumpah. Kursi terjatuh. Tak ia hiraukan. Ia berlari membuka pintu café dan menghamburkan tubuhnya memeluk Danasmara,

“Mas!”

Ia peluk erat dan semakin erat. Lalu ia menangis. Ia pandang wajah Danasmara. Ia memeluk lagi, dan menangis lagi. Danasmara mendekap Sembadra, dan menyelimutkan mantelnya. Digoyangkan dekapannya ke kanan dan kiri,

“Hey..”, sapanya pelan.

“Mas, aku cariin Mas kemana-mana. Sampai ke Wina, ke Milan, ke London, sampai ke Brussels!”

“Kenapa sampai jauh-jauh. Aku kan cuma pergi sebentar. Hayo siapa yang shopping ngabisin banyak duit?”, kata Danasmara. Dua ibu jarinya menyeka air mata Sembadra dan ia kecup bulu-bulu lembut di keningnya.

Sembadra tersenyum, “Mas tunggu di sini ya. Aku ambil tas di dalam terus aku ikut Mas. Aku ikut kemana aja Mas pergi. Mau ke hutan, mau ke laut, aku ga peduli lagi. Aku ikut! Tunggu!”

“Ga usah..”

Sembadra berlari masuk ke café. Dibukanya pintu dan dihampiri tempat ia duduk tadi. Sekejap ia masukkan semua kertas dan pulpen yang berserakan di meja. Ia jinjing tasnya dan berlari lagi keluar café. Matahari telah bersinar terang. Kabut yang tebal menghilang tanpa bekas seakan tak pernah di situ. Begitu juga Danasmara. Ia tengok kanan kiri. Ia memandang dari ujung ke ujung. Tak ada siapa-siapa. Sembadra shock. Lututnya lunglai. Tubuhnya seketika lemas. Ia hampir kehilangan tenaga dan keseimbangan. Batin Sembadra bergolak,

“Dimana Mas Arjuna barusan? Dimana kabut tebal barusan? Apa ini halusinasi? Tapi bekas usapan air matanya nyata. Dan semua memang terasa sangat nyata. Dimana Mas Arjuna yang kupeluk barusan?”

Ia buka ponselnya, dan langsung mengirim pesan Line,

“Mas lagi di Brussels kan???”

Seperti yang lalu, tak ada jawaban. Sembadra dicekik hampa yang tiba-tiba. 

Lonesome Lady



Di suatu Minggu pagi yang cerah Sembadra menghampiri Gareng, Petruk, dan Bagong di padepokan Sapta Arga. Mereka bertiga sedang memberi makan ayam dan merpati. Sembadra mengajak mereka pergi jalan-jalan ke mall. Karena hari Minggu disebut hari libur maka mereka bertiga menerima tawaran dengan girang. Pringas-pringis, cengengas-cengenges, hore! Petruk berebut dengan Gareng duduk di depan. Gareng kalah. Bagong di belakang. Sembadra nyetir. “Brummm”. Pakan ayam ditinggal berserakan.

“Non, kita mau pergi ke mall yang mana?”, tanya Bagong girang.

“Ke mall yang paling buessarr”, jawab Sembadra mantap.

“Hehe. Mall yang besar. Shopping. Shopping. Shopping!”, kata Petruk menikmati pemandangan.

“Bagong kamu udah mandi belum? Kamu bauk!”, sela Gareng.

“Sudah donk. Gareng riwil!”, tukas Bagong.

“Non, nanti mampir ke toko peralatan masak ya? Pingin lihat-lihat”, kata gareng.

“Gampang”, jawab Sembadra di balik kacamata hitamnya yang berbingkai tebal.

Corvette merah melaju kencang, meliak-liuk menari menyusuri jalan desa. Stereo memutar denting gitar La Paloma dengan nuansa Spanish. Sawah-sawah membentang dipagari pepohonan kelapa. Mentari bertengger di atas kaki gunung. Sapi dan kerbau menyeberang jalan. Bebek-bebek mandi di kali. Gareng, Petruk, dan Bagong melamunkan apa yang ingin mereka beli. Barangkali hoki. Gratis. 

Sampai di mall yang paling buesar mereka berempat mulai jalan. Sembadra dikawal Petruk yang jambulnya klimis rapi karena sudah diplintir terus sejak tadi. Gareng mengikuti di belakang bersama Bagong yang jalan megal-megol.

Di outlet sepatu, Sembadra memilih-milih wedges,

“Gareng, ini sama ini bagus mana?”

Petruk dan Bagong bengong tak paham. Gareng menjawab sekenanya,

“Yang merah OK. Yang hijau cantik”.

Keduanya diangkut Sembadra. Petruk melihat-lihat sepatu boots kulit. Ditimang-ditimangnya sepatu yang paling mahal, lalu dicoba sambil berkaca.

“Ambil aja Truk. Aku beliin”, kata Sembadra.

Bagong dan Gareng melotot. Petruk menelan ludah,

 “Wow! Okei. Thank you!”.

“Non! Ayo kita lihat-lihat batiiiik!!”, Bagong usul seperti proklamator teriak merdeka.

“Yuuk”, jawab Sembadra enteng.

Gareng makin serius memikirkan apa yang ingin ia beli.

Mereka berempat mengelilingi mall dari ujung ke ujung, dari lantai ke lantai. Setiap outlet yang SPG-nya cantik dimasuki Petruk. Outlet-outlet yang jual baju warna-warni dimasuki Bagong. Gareng mengangkut semua peralatan masak yang canggih. Sembadra enteng main gesek kartu. Anehnya semakin banyak yang dibeli, ia semakin puas.

Tas-tas belanjaan dijinjing disana-sini. Petruk dibelikan sepasang sepatu, 2 kemeja, 2 celana jeans, jaket parka, dan kacamata. Bagong dibelikan 4 batik, 2 kemeja, jas, celana, dan kopiah hitam. Gareng dibelikan microwave, panci presto, wajan teflon, seperangkat pisau dapur mulai dari yang kecil sampai besar, topi koki Perancis, dan celemeknya. Sembadra memborong blues bermacam-macam warna dan daleman-daleman. Semuanya barang mahal.

Pada perjalanan pulang mereka mampir ke restaurant Pizza. Bagong yang ditugasi memilih menu. Hasilnya, dipesan semuanya. Sebagian dibawa pulang.

Senja menjemput. Mereka pulang. Corvette merah kembali menyusuri jalan yang sama. Mobil penuh sesak dengan perabotan dan barang belanjaan.

“Barang belanjaan sebanyak ini, habis berapa untuk shopping tadi Non?”, tanya Gareng.

“Ga tau. Masih kurang banyak belanjanya”, jawab Sembadra memegang setir.

“Kuat ya Non kartunya. Digesek terus ga rusak”, kata Bagong.

“Hahaha! Ya enggak donk Gong. Kartunya ga bisa rusak. Isinya yang bisa jebol”, kata Petruk.

“Iya maksudku itu Truk!”, kata Bagong.

“O… Santai”, jawab Sembadra enteng. Sangat enteng.

Di belahan bumi lain yang tak diketahui Sembadra. Di negeri seberang lautan nun jauh di sana. Danasmara yang sedang menarik uang tunai mengerutkan dahi. Saldo ATM-nya hampir kosong.

“Ada apa? Apa aku harus pulang?"

Wednesday, May 10, 2017

Maya Sari



Sembadra memarkir mobil, membuka pintu dan beranjak mengayunkan kakinya di atas tanah basah. Siang telah menjadi petang yang temaram di Bali, di sebuah restauran tempat ia dan Arjuna saling memandang pertama kali. Maya Sari. Blazer panjangnya membelah udara dingin yang masih wangi dari aroma hujan, menyelimutinya dari tiupan angin lembah yang menari mengitari bukit-bukit Ubud.

Mencari Danasmara ialah mengunjungi lagi kenangan indah yang ia rindui, dan merindukannya berarti memeluk kenangan itu. Peluk yang tak ingin dilepas meski ia merasakan pedih dari jerat-jerat durinya, dari pelukan yang ternyata hampa. 

Bunga-bunga Kamboja melambai rendah di pelataran pintu masuk. Lampu-lampu emas mulai dinyalakan menyinari pilar saka kokoh dan bilah-bilah kayu tempat ia berjalan. Kolam dengan air jernih dan tenang memantulkan nyala lilin-lilin kecil yang mengapung di atasnya. 

Maya Sari ialah tempat para raja beristirahat, para permaisuri memanjakan diri, atau tempat para begawan melamun. Pendapa-pendapanya tinggi menjulang. Pilarnya saka-saka yang kokoh dan tak lapuk. Lantainya bilah-bilah kayu. Ranjang dan meja-kursinya berukir dalam. Lampu gantungnya semburat emas. Tirainya sutra. Gerbangnya gapura tinggi bertingkat. Pagarnya lempeng-lempeng besar batu alam. Para penjaga dan dayangnya ialah bukit-bukit dan angin Ubud.

Sembadra memberikan blazernya pada seorang pelayan dan duduk dimana Arjuna biasa duduk, di meja tengah. Pramusaji datang menuangkan air putih dan memberikan buku menu. Namun Sembadra datang ke situ bukan untuk makan. Juga bukan untuk minum. Ia ingin merasai lagi kenangan, menuruti kangen, atau menghibur tangis. Maka ia memesan menu yang pernah dipesan Danasmara,

“Sate bebek. Es Daluman"

Daftar menu diambil dan menghilang dari meja. Pramusaji pergi dan menghilang dari pandangan. Namun bayang-bayang Danasmara malah muncul. Sembadra beranjak dan berdiri di tepi pagar pembatas. Melemparkan pandangan pada bintang-bintang kecil yang mulai berkelip.

Langit surut.
Angin berhembus pelan.
Udara yang basah meniupkan kabut.
Sembadra digelayuti rindu yang tak mau disembuhkan.

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...