“Bagong, kamu juru bicaranya Mas, aku tanya, Mas dimana?”, samber Rara Ireng seperti letupan gorengan ikan.
“Mas-nya
siapa dulu nih? Mas-nya Neng Banowati apa Neng . . . ”, Gareng yang menyahut.
“Siapa? Siapa
sih? Siapa Gong?”
Bagong menjawab, “Siapa apanya?”
Tipikal Bagong. Buffering.
Sembadra menatap Gareng,
“Udah
terbuka aja. Mas lagi dimana? Aku tahu kita di sini gara-gara ide si Petruk.
Gayanya aja ngafe. Sampe di sini, nyatanya karaokean. Ini acaranya si Petruk kan? Ayo ngaku.”
“Wadaw", reaksi Gareng mati langkah. Gareng melongok ke arah Petruk, seakan ingin teriak minta tolong. Sayang
di bawah lampu sorot, Petruk teguh menggenggam mikrofon.
Malam
tak dapat ditolak. Corvette Sembadra membawa mereka berempat ke sebuah café. Sembadra, atau Rara Ireng ini, masih seperti yang lalu, suka menitipkan kangen kemana-mana.
Di
meja kopi, Bagong masih menyusun kalimat-kalimat jawab untuk malam ini. Demi Gareng yang barusan kena
skak, demi Petruk yang telah lebih dulu angkat mikrofon, dan demi pembuktian seorang Bagong atas makna
buffering.
Karenanya,
Bagong diam.
Untuk rangkaian
sebuah jawaban.
Sembadra tenang merambat, memburu jawaban.
Pandangannya ditusukkan pada mata Bagong.
Tak ada nego bagi Bagong.
Bagong mecucu.
Profesional dalam gimmick negosiasi.
Sembadra meletakkan sebungkus
rokok di atas meja
Tabung oksigen bagi Bagong
Oleh Sembadra, semua sudah diantisipasi
Di depan sebungkus rokok, Bagong mengernyit.
Dari Bagong, tak semudah itu membeli jawaban.
Sembadra tersenyum.
Bagong membuka bungkusan rokok.
Ia sulut sebatang.
Melihat Bagong,
Gareng menerapkan manajemen emosi.
Don Bagong meneruskan kalimat,
“Danasmara
tak terlihat setahun, Danasmara dirindui. Danasmara tak terlihat sehari, sama juga dirindui”,
lanjut logis Bagong bersama asap, ditambah dengan alunan lambaian tangan.
Melihat Bagong lagi, Gareng
mencoba sabar.
Perlahan-lahan akhirnya Bagong berhasil
menyilangkan kakinya.
Gareng masih ingin bersabar. Meski tak sanggup lagi.
“Gong ini bukan syuting...”, kata Gareng.
Bagong menarik
udara lewat sigaret. Lama. Lalu segulung kepulan tembakau ditiupkan.
“Kou lihat
sendiri Reng, aku sedang berhadapan dengan sebuah persoalan”, Don Bagong masih menjawab.
Sembadra tak tega merasai keteguhan Bagong. Ia menyambung lirih,
“Yaudah
Gong. OK. Biar. Mas ga kelihatan sehari, aku kangen. Mas ga kelihatan setahun,
aku juga kangen. OK. Kamu bener Gong. Tapi biar. Biar aku dipenjara kangen. Terlanjur terbiasa”.
Jawaban Rara Ireng terdengar lunglai. Suaranya hampir pingsan. Orangnya yang masih ngopi.
No comments:
Post a Comment