Tuesday, February 10, 2015

Jam Karet

Studi di luar negeri itu bisa dibilang asik, juga menantang. Di sini secara tidak langsung kita ditemukan dengan para mahasiswa unggul baik dari dalam maupun luar negeri. Dari pengamatanku, gak ada dari mereka yang leda-lede dan malas-malasan. Semuanya rajin dan pekerja keras. Di kampusku ini juga kuamati kalau pelajar dari masing-masing negara punya cara hidup sendiri-sendiri.

Misalnya teman-teman dari Cina, mereka kebanyakan rajin, ramah, dan ringan tangan. Mereka memiliki satu hal yang tak dimiliki pelajar dari negara lain, yaitu kesederhanaan. Kebanyakan mereka tak begitu peduli dengan baju apa yang sedang mode. Asalkan mereka nyaman, memakai baju itu-itu saja tak menjadi masalah. 


Kalau pelajar Korea, karena mereka penduduk asli, haram hukumnya pakai baju yang gak gaul. Seakan-akan kalau gak gaul nanti ditangkap polisi. Meski demikian mereka pekerja keras. Kalau sudah berurusan dengan kelas entah kenapa menurutku mereka tiba-tiba jadi seperti striker sepak bola. Kalau tidak mencetak top score waktu ujian mereka jadi lesu. Targetnya cuma satu, top score.

Beda lagi dengan pelajar-pelajar dari Eropa. Kebanyakan mereka memang seperti yang diceritakan Bung Hatta waktu di Belanda, suka party dan hura-hura ceria. Mereka suka yang heboh seperti rock show, clubbing, dan semacamnya. Mungkin kalau lebaran di Indonesia lalu kita ajak nyumet mercon mereka akan senang. Kalau anak-anak Korea suka gaya cool n kalem, mereka biasanya cool n nyentrik. Gak sungkan pakai kacamata hitam atau anting besar seperti Marilyn Monroe.

Tapi dibalik itu semua ada hal yang istimewa dari orang-orang Barat itu. Mereka semua dikenal amat disiplin. Tahu kan kalau Piala Dunia terakhir dimenangkan oleh Jerman? Sebenarnya Jerman dikenal sebagai bangsa yang disiplin di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Selain itu mereka tipikal bangsa yang harus precise, tepat, or exact. Kalau pernah nonton film balapan yang judulnya Rush itu. Nah, mereka semua tipikal Niki Lauda begitu. Aku punya professor dari Jerman, dia non-muslim. Dia pernah cerita, meski jam ngajar pertama pukul 9 pagi dia selalu mulai kerja dari pukul 4 pagi, dan itu setiap hari.

Setahun yang lalu ada juga seorang kawanku dari Jerman. Dia cowok dan sekarang katanya sedang internship di Thailand. Untuk seumuran dia kurasa dia pemuda yang sangat disiplin. Suatu pagi karena iseng aku datang ke gym kampus dan dia udah ada di situ. Dan aku lihat jenis latihan dia cukup berat juga. Katanya setiap hari dia pasti udah di gym mulai jam 6.30 pagi. Jadi bisa kita bandingkan dengan muda-mudi bangsa kita yang jam segitu entahlah masih ada di alam mana. Yang jelas butuh disiplin tingkat tinggi untuk konsisten latihan berat macam pendekar gitu pagi-pagi.

Dan suatu hari ada kejadian yang bikin aku merasa tersinggung berat sebagai orang Indonesia. Di Indonesia sudah amat terkenal istilah jam karet. Kalau ada pertemuan dan gak tepat waktu, orang-orang akan bilang, “Maklum Indonesia, jam karet”, dan itu diucapkan juga oleh orang Indonesia sendiri. Ya alhamdulillah juga meski aku sempat jadi korban budaya negatif itu kini aku sedikit demi sedikit sudah mulai menyelematkan diri. Dulu kalau ada kelas di kampus aku sering telat, apalagi waktu sering laju 1 jam perjalanan. Temanku sampai ada yang ngasih julukan aku Mister Telat. Dari yang dulu sering telat sampai setengah jam, alhamdulillah sekarang aku sudah bertaubat, paling kalau telat 5 menitan.

Nah, ceritanya waktu itu kita para mahasiswa asing lagi makan bersama di kantin, termasuk ada juga kawanku dari Jerman itu. Di tengah kita asik ngobrol ngalor-ngidul bersama, kawanku dari Jerman ijin pamit duluan karena ada janji ketemuan dengan temannya. Tapi kata-kata mohon ijinnya itu menyinggung sisi “Jam Karet Indonesia”ku. Entah ada di sebelah mana tapi yang jelas waktu itu sisi itu terluka parah. Sambil guyon cengar-cengir dia berkata,

“Oke guys, sorry, aku duluan ya. Karena aku orang Jerman, aku harus ada di tempat 2 menit lebih awal. Hehehe.”

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1

Makam-Makam Wali di Negeri Korea 1 Assalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh Alhamdulillah pada bulan puasa ini kami bisa menuliskan tentan...