Studi
di luar negeri itu bisa dibilang asik, juga menantang. Di sini secara
tidak langsung kita ditemukan dengan para mahasiswa unggul baik dari
dalam maupun luar negeri. Dari pengamatanku, gak ada dari mereka yang
leda-lede dan malas-malasan. Semuanya rajin dan pekerja keras. Di
kampusku ini juga kuamati kalau pelajar dari masing-masing negara punya cara hidup sendiri-sendiri.
Misalnya
teman-teman dari Cina, mereka kebanyakan rajin, ramah, dan ringan
tangan. Mereka memiliki satu hal yang tak dimiliki pelajar dari negara
lain, yaitu kesederhanaan. Kebanyakan mereka tak begitu peduli dengan
baju apa yang sedang mode. Asalkan mereka nyaman, memakai baju itu-itu
saja tak menjadi masalah.
Kalau
pelajar Korea, karena mereka penduduk asli, haram hukumnya pakai baju
yang gak gaul. Seakan-akan kalau gak gaul nanti ditangkap polisi. Meski
demikian mereka pekerja keras. Kalau sudah berurusan dengan kelas entah
kenapa menurutku mereka tiba-tiba jadi seperti striker sepak bola. Kalau
tidak mencetak top score waktu ujian mereka jadi lesu. Targetnya cuma
satu, top score.
Beda lagi dengan pelajar-pelajar dari Eropa.
Kebanyakan mereka memang seperti yang diceritakan Bung Hatta waktu di
Belanda, suka party dan hura-hura ceria. Mereka suka yang heboh seperti
rock show, clubbing, dan semacamnya. Mungkin kalau lebaran di Indonesia
lalu kita ajak nyumet mercon mereka akan senang. Kalau anak-anak Korea
suka gaya cool n kalem, mereka biasanya cool n nyentrik. Gak sungkan
pakai kacamata hitam atau anting besar seperti Marilyn Monroe.
Tapi
dibalik itu semua ada hal yang istimewa dari orang-orang Barat itu.
Mereka semua dikenal amat disiplin. Tahu kan kalau Piala Dunia terakhir
dimenangkan oleh Jerman? Sebenarnya Jerman dikenal sebagai bangsa yang
disiplin di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Selain itu mereka tipikal
bangsa yang harus precise, tepat, or exact. Kalau pernah nonton film
balapan yang judulnya Rush itu. Nah, mereka semua tipikal Niki Lauda
begitu. Aku punya professor dari Jerman, dia non-muslim. Dia pernah
cerita, meski jam ngajar pertama pukul 9 pagi dia selalu mulai kerja
dari pukul 4 pagi, dan itu setiap hari.
Setahun yang lalu ada
juga seorang kawanku dari Jerman. Dia cowok dan sekarang katanya sedang
internship di Thailand. Untuk seumuran dia kurasa dia pemuda yang sangat
disiplin. Suatu pagi karena iseng aku datang ke gym kampus dan dia udah
ada di situ. Dan aku lihat jenis latihan dia cukup berat juga. Katanya
setiap hari dia pasti udah di gym mulai jam 6.30 pagi. Jadi bisa kita
bandingkan dengan muda-mudi bangsa kita yang jam segitu entahlah masih
ada di alam mana. Yang jelas butuh disiplin tingkat tinggi untuk
konsisten latihan berat macam pendekar gitu pagi-pagi.
Dan suatu
hari ada kejadian yang bikin aku merasa tersinggung berat sebagai orang
Indonesia. Di Indonesia sudah amat terkenal istilah jam karet. Kalau
ada pertemuan dan gak tepat waktu, orang-orang akan bilang, “Maklum
Indonesia, jam karet”, dan itu diucapkan juga oleh orang Indonesia
sendiri. Ya alhamdulillah juga meski aku sempat jadi korban budaya
negatif itu kini aku sedikit demi sedikit sudah mulai menyelematkan
diri. Dulu kalau ada kelas di kampus aku sering telat, apalagi waktu
sering laju 1 jam perjalanan. Temanku sampai ada yang ngasih julukan aku
Mister Telat. Dari yang dulu sering telat sampai setengah jam,
alhamdulillah sekarang aku sudah bertaubat, paling kalau telat 5
menitan.
Nah, ceritanya waktu itu kita para
mahasiswa asing lagi makan bersama di kantin, termasuk ada juga kawanku
dari Jerman itu. Di tengah kita asik ngobrol ngalor-ngidul bersama,
kawanku dari Jerman ijin pamit duluan karena ada janji ketemuan dengan
temannya. Tapi kata-kata mohon ijinnya itu menyinggung sisi “Jam Karet
Indonesia”ku. Entah ada di sebelah mana tapi yang jelas waktu itu sisi
itu terluka parah. Sambil guyon cengar-cengir dia berkata,
“Oke guys, sorry, aku duluan ya. Karena aku orang Jerman, aku harus ada di tempat 2 menit lebih awal. Hehehe.”